Kamis, 14 Agustus 2025

Soft Living : Menikmati Hidup, Bukan Dikejar Hidup

 

 

Soft Living: Menikmati Hidup, Bukan Dikejar Hidup

Di tengah riuhnya dunia yang serba cepat, di mana keberhasilan sering diukur dari seberapa banyak pencapaian yang kita raih dan seberapa sibuk kita terlihat, muncul sebuah arus baru yang mengalir lebih pelan: soft living. Gaya hidup ini mengajak kita untuk tidak sekadar hidup, tetapi menikmati hidup. Bukan berarti menolak kerja keras, melainkan mengatur ritme agar kita tidak terjebak dalam hustle culture, budaya yang memuja kesibukan dan menganggap sibuk sebagai tanda sukses.

Menurut pakar psikologi Setyawati (2020), hustle culture adalah budaya yang memicu seseorang menganut workaholism atau “gila kerja”. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Wayne Oates dalam bukunya Confessions of a Workaholic: The Facts About Work Addiction pada tahun 1971. Dalam praktiknya, hustle culture sering membuat kita lupa bahwa tubuh dan pikiran punya batas. Kita terus mengejar target, menambah jam kerja, bahkan merasa bersalah saat beristirahat. Seakan-akan nilai diri hanya diukur dari seberapa sibuk kita. Soft living hadir sebagai penyeimbang, mengingatkan bahwa kualitas hidup jauh lebih berharga daripada kuantitas pencapaian.

Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi banyak orang. Saat dunia dipaksa berhenti sejenak, kita mulai mempertanyakan: Apakah hidup ini hanya tentang bekerja dan mengejar materi? Banyak yang menyadari bahwa kesehatan, baik fisik maupun mental, adalah aset yang jauh lebih mahal daripada semua penghargaan di meja kerja. Survei di berbagai negara menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda. Data juga memperlihatkan tren burnout ( Menurut Kamus American Psychological Association yang dikutip dari website Cleveland Clinic, burnout adalah kelelahan secara fisik, emosional, atau mental yang disertai dengan penurunan motivasi, kinerja, dan munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain ). Kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kerja, semakin meningkat di kelompok pekerja usia 20–35 tahun. Fenomena ini membuat sebagian orang memilih untuk memperlambat langkah, mengatur ritme, dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Menjalani hidup dengan ritme sehat membutuhkan kesadaran dan keberanian. Kita semua adalah khalifatullah di muka bumi, masing-masing punya peran unik yang diamanahkan oleh Tuhan. Fokuslah pada peran itu dan jalankan dengan sepenuh hati. Saat kita berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain, rasa syukur akan hadir dengan sendirinya. Selanjutnya kita harus mampu mengelola stress karena stres adalah hal yang lumrah, pilihan ada pada diri kita apakah dibiarkan menumpuk hingga menjadi beban, atau diurai dengan cara sehat seperti olahraga, hobi, atau ibadah. Menjaga hubungan dan koneksi yang sehat dengan keluarga dan sahabat adalah benteng yang membuat kita tetap waras di tengah tekanan kerja. Luangkan waktu untuk bercengkerama, bertatap muka dan bukan hanya melalui media sosial, misalnya dengan mengirim pesan singkat.

Bahwa setiap kita menginginkan pencapaian yang spektakuler dalam berkarir atau dalam meraup keuntungan besar dalam hidup adalah hal yang lumrah, namun demikian agar prosesnya dapat berjalan dengan baik dalam irama yang harmoni, maka kita perlu melatih kesadaran. Tidak semua hal bisa dicapai secara instan, kesabaran mengajarkan kita untuk menghargai proses, bukan hanya hasil, menetapkan prioritas, mengingat waktu dan energi kita terbatas. Hal penting lainnya yang perlu kita latih adalah belajar mengatakan “tidak” pada hal yang tidak sejalan dengan tujuan hidup dan itu merupakan bentuk nyata dalam kita menghargai diri sendiri. Dalam menjalani proses panjang, pada setiap fase yang kita jalani, perlu ditanamkan rasa syukur yang membuat kita merasa cukup, bahkan di tengah keterbatasan. Ini adalah fondasi dari kebahagiaan yang tahan lama. Rasa syukur yang dalam akan berdampak pada kemampuan diri dalam menjaga keseimbangan, termasuk menyelaraskan antara kerja keras dan istirahat, karena kedua tindakan ini  bukanlah musuh, keduanya harus berjalan beriringan. Hal yang tidak kalah penting yang perlu kita bina adalah kemampuan diri untuk beradaptasi dengan perubahan. Dunia selalu berubah, mereka yang mampu beradaptasi akan lebih tenang menghadapi ketidakpastian.

Agar soft living dapat kita terapkan dalam kehidupan kita, maka beberapa langkah  jitu  dapat kita lakukan, antara lain dengan memilih pekerjaan yang fleksibel, memberi ruang untuk mengatur jam kerja sesuai kebutuhan pribadi, mengatur waktu istirahat yang cukup, tanpa merasa bersalah karena berhenti sejenak, mengurangi konsumsi berlebihan, membeli barang yang benar-benar dibutuhkan., membatasi jam layar (screen time), agar tidak tenggelam dalam dunia digital dan lupa pada dunia nyata. Rani, seorang freelancer di Jakarta, membagikan pengalamannya: “Dulu saya bangga kalau tidur hanya 4 jam demi menyelesaikan proyek. Tapi setelah sakit, saya sadar bahwa tubuh punya batas. Sekarang saya bekerja maksimal 6 jam sehari, sisanya saya gunakan untuk membaca, berkebun, atau berkumpul dengan keluarga. Pendapatan saya memang tidak meledak, tapi saya jauh lebih bahagia.”

Soft Living mempunyai banyak dampak positif, antara lain ; kesehatan mental yang lebih baik, karena ritme hidup teratur, punya waktu untuk merawat pikiran, mengelola emosi, dan mencegah burnout. Waktu berkualitas dengan orang terdekat membuat hubungan lebih hangat dan penuh makna, menjadikan kehidupan lebih harmonis. Pola konsumsi lebih terkendali, ,mengurangi keinginan untuk terus membeli barang membuat kita lebih hemat dan ramah lingkungan.

Tidak semua orang melihat soft living secara positif. Ada anggapan bahwa mereka yang menjalani gaya hidup ini adalah pemalas atau kurang ambisius. Tantangan lainnya adalah faktor ekonomi: tidak semua orang punya privilege untuk mengatur ritme kerja sesuai keinginan, terutama mereka yang berada di bawah tekanan finansial. Selain itu, ada risiko kehilangan daya saing di pasar kerja jika kita terlalu “nyaman” dengan ritme santai. Artinya, soft living tetap membutuhkan kesadaran untuk menjaga kompetensi dan keterampilan agar kita tidak tertinggal.

Di Indonesia, tren soft living mulai dilirik oleh generasi muda, terutama yang tinggal di kota besar. Media sosial turut mempopulerkannya lewat konten para influencer yang membagikan gaya hidup seimbang, hobi sederhana, hingga tips manajemen waktu. Namun, secara budaya, Indonesia masih kental dengan nilai kerja keras ala generasi sebelumnya. Dalam keluarga tradisional, bekerja dari pagi hingga malam sering dianggap sebagai tanda tanggung jawab. Karena itu, soft living kerap dipandang “kurang serius” dalam meniti karier. Tantangannya adalah menemukan titik temu antara nilai-nilai lama yang menghargai etos kerja dan pandangan baru yang menekankan kesehatan mental serta kualitas hidup.

Pada akhirnya, soft living bukan tentang bermalas-malasan atau lari dari tanggung jawab. Ia adalah seni menyeimbangkan antara mengejar mimpi dan menikmati perjalanan. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi target yang terus bergeser. Seperti kata pepatah, “Jadilah sungai yang mengalir tenang, alirannya tidak berisik, namun dapat menghidupi banyak jiwa.” Sungai yang tenang tidak berarti lemah, ia tetap mengalir, memberi kehidupan, dan mencapai lautan pada waktunya. Begitu pula hidup kita, berjalan dengan tenang, penuh kesadaran, namun tetap bergerak menuju tujuan.(fsy)

Rabu, 30 Juli 2025

Dari "Ngeyel" ke Ikhlas

 

 

Dari Ngeyel ke Ikhlas: Transformasi Batin Manusia

Oleh ; Febri Satria Yazid

Selepas subuh, saya menonton salah satu serial dari film Dear Nathan di saluran Vidio. Film yang sarat dengan pesan moral dan konflik-konflik dalam keluarga, yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, disajikan dalam cerita remaja yang penuh gejolak, suka ngeyel sering  bersikap keras kepala, menolak pendapat orang lain dan merasa diri sendirilah yang paling benar. Ini adalah tanda bahwa ego masih memegang kendali, dan belum siap menerima kenyataan yang berbeda dari keinginan pribadi. Sikap ngeyel biasanya muncul saat seseorang merasa tidak mau disalahkan atau tidak rela mengakui bahwa pendapat atau keputusannya keliru. Sikap ngeyel bukan hanya membuat hubungan jadi tegang, tapi juga bisa menghambat pertumbuhan diri. Ketika ego terus dibiarkan berkuasa, seseorang sulit untuk belajar dari masukan, sulit untuk berkembang, dan sulit untuk memahami sudut pandang orang lain. Menyadari bahwa ngeyel adalah bagian dari ego yang belum dewasa adalah langkah awal menuju kedewasaan. Belajar membuka diri, mendengarkan dengan hati, dan menerima bahwa tidak selalu diri kita yang paling benar, akan membawa kita pada hubungan yang lebih sehat dan hidup yang lebih damai.

Karena merasa dirinya selalu benar, lalu marah ketika merasa kehilangan kendali, ditolak, diperlakukan tidak adil, atau menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan. Dalam banyak kasus, marah sebenarnya merupakan bentuk dari ketidakmampuan kita untuk menerima suatu keadaan, baik itu kesalahan orang lain, kegagalan diri sendiri, atau kenyataan pahit yang sulit diterima. Namun, penting untuk membedakan antara marah yang sehat dan marah yang melukai. Marah yang sehat adalah marah yang bisa dikendalikan. Misalnya, ketika kita menyampaikan ketidaksetujuan atau rasa kecewa secara tegas, tapi tetap dengan bahasa yang baik dan tidak menyakiti. Marah yang sehat justru bisa menjadi bentuk komunikasi yang jujur, asalkan disampaikan dengan cara yang bijak. Sebaliknya, marah yang melukai adalah marah yang meledak tanpa kendali, menghancurkan hubungan, menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional, bahkan bisa merusak diri sendiri. Ini terjadi saat kita membiarkan emosi menguasai akal sehat, dan tidak memberi ruang untuk memahami situasi secara utuh.

Dampak dari tidak menerima keadaan, menghadapi situasi sulit atau kehilangan, banyak orang masuk ke fase “menawar”, yakni saat di mana kita berharap bisa kembali ke masa lalu yang terasa lebih nyaman dan menyenangkan. Ini adalah tanda bahwa kita sebenarnya belum sepenuhnya menerima kenyataan yang ada saat ini. Keinginan untuk kembali ke masa lalu ini sering muncul karena kita merasa aman dan terkendali di sana. Masa lalu menjadi tempat di mana kita merasa lebih tahu apa yang akan terjadi, lebih tenang, dan tidak seberat hari ini. Namun, perlu kita sadari bahwa hidup tidak pernah bergerak mundur. Waktu terus berjalan, dan setiap perubahan menuntut kita untuk ikut tumbuh dan menyesuaikan diri. Karena upaya-upaya yang dilakukan untuk kembali kepada zona nyaman itu gagal diwujudkan, akhirnya menimbulkan depresi.

Depresi bukan sekadar rasa sedih yang datang dan pergi. Ia lebih dalam dari itu, sebuah kondisi saat seseorang merasa hampa, seolah hidup kehilangan arah dan makna. Segala hal yang dulu menyenangkan kini terasa hambar. Aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan pun mulai diabaikan. Bangun dari tempat tidur terasa berat, berbicara dengan orang lain tidak lagi menarik, dan senyuman pun terasa dipaksakan. Depresi bukan karena seseorang lemah atau kurang bersyukur. Justru, ini adalah tanda bahwa jiwa sedang kelelahan dan mencari pegangan. Kadang, depresi datang setelah kehilangan besar, tekanan hidup yang berkepanjangan, atau perasaan bahwa apa pun yang dilakukan terasa sia-sia. Dalam kondisi ini, gairah hidup dan motivasi perlahan menghilang, dan seseorang bisa merasa seolah dirinya tak berarti atau tidak dibutuhkan.hidup terasa hampa, kehilangan rasa dan berujung pada kehilangan tujuan hidup.

Jika rentetan peristiwa di atas  dapat dilalui dengan baik, maka akan memunculkan kesadaran sehingga dapat merilis semua kejadian dan bermuara pada keikhlasan, saat di mana hati benar-benar menerima kenyataan tanpa syarat, bukan karena menyerah, tapi karena sadar bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita. Banyak orang keliru menganggap ikhlas sebagai bentuk pasrah total tanpa usaha, padahal sejatinya ikhlas adalah bentuk tertinggi dari kebesaran hati: menerima yang terjadi sambil tetap melangkah maju dengan niat yang baik. Ikhlas bukan berarti kita berhenti berjuang. Justru, dengan ikhlas, kita berhenti mengeluh dan mulai mengerahkan energi untuk hal yang lebih penting. Saat seseorang ikhlas atas kegagalan, misalnya, ia tidak lagi sibuk menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Ia memilih untuk belajar dari kegagalan itu dan mencoba lagi dengan lebih bijak. Ikhlas juga membuka ruang untuk pemulihan. Hati yang penuh amarah atau kecewa sulit untuk sembuh. Tapi ketika kita belajar menerima, luka itu perlahan mengering. Dari situlah semangat dan harapan baru bisa tumbuh. Ikhlas bukan hal mudah, tapi ia adalah titik balik yang bisa membebaskan jiwa. Saat kita ikhlas, kita memberi ruang bagi diri untuk tumbuh, dan bagi hidup untuk membawa kita ke tempat yang lebih baik.

Kedewasaan bukan ditentukan oleh angka usia, tetapi oleh seberapa cepat seseorang mampu menyadari emosi yang dirasakannya, mengelolanya dengan bijak, dan bangkit dari keterpurukan. Orang yang dewasa bukan berarti tidak pernah marah, sedih, kecewa, atau takut. Tapi mereka belajar untuk tidak tenggelam terlalu lama dalam kekacauan batin itu. Mereka tahu kapan harus menangis, dan tahu kapan waktunya berdiri kembali. Setiap manusia, tanpa terkecuali, pasti akan mengalami pasang surut emosi dalam hidupnya. Ada saat-saat di mana semuanya berjalan lancar dan hati terasa tenang, tetapi ada juga masa-masa sulit ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Penting untuk kita sadari bahwa emosi yang datang silih berganti bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses tumbuh dan belajar sebagai manusia.

Memahami dinamika emosi, kenapa kita merasa demikian, apa yang memicunya, dan bagaimana cara menghadapinya adalah langkah penting dalam proses menuju kedewasaan. Dengan belajar mengenali dan mengelola emosi, kita menjadi lebih bijaksana dalam bersikap, lebih tenang dalam menghadapi realitas hidup, dan lebih kuat dalam melanjutkan hidup. Ketenangan batin bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru, ia hadir ketika kita mampu menerima kenyataan, belajar dari setiap pengalaman, dan tetap melangkah meski hati pernah terluka. Inilah yang membuat jiwa menjadi matang, dan hati menjadi damai. Ibarat kata, hati adalah sopir dan jiwa adalah mobilnya. Memahami dinamika emosi ini penting, karena ia menjadi jembatan menuju kedewasaan. Dengan menyadari, menerima, dan mengelola emosi secara sehat, seseorang belajar melihat peristiwa bukan sekadar luka, tapi pelajaran. Dari situlah perlahan lahir ketenangan batin, bukan karena hidup tanpa gelombang, melainkan karena hati telah belajar berenang dalam gelombang itu dengan bijak.

Setiap fase emosi, dari ngeyel, marah, menawar, hingga depresi, adalah hal yang manusiawi. Tidak ada yang salah dengan merasakan semuanya. Tapi kita perlu ingat: jangan terlalu lama berada dalam situasi kekacauan emosi, karena bisa membuat kita terjebak, kehilangan arah, dan sulit melihat harapan. Hidup ini tidak akan pernah benar-benar mudah. Tapi dengan hati yang jernih, kita bisa belajar untuk berdamai dengan keadaan, melangkah lebih ringan, dan menjadi versi diri yang lebih kuat dari hari ke hari.(fsy)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 26 Juli 2025

Gadget Jadi Pengasuh

 

 

Gadget Jadi Pengasuh: Anak-anak yang Kehilangan Pelukan Orang Tua

Oleh ; Febri Satria Yazid

Di pojok ruangan yang sunyi, dua anak bersaudara, usia sepuluh dan tujuh tahun, duduk diam dalam hening yang panjang. Mata mereka terpaku pada layar handphone, jari-jarinya lincah menekan ikon-ikon berwarna yang bergerak cepat, menyala dan berbunyi ramai. Namun di antara kilau cahaya layar itu, tak ada tawa. Tak ada panggilan hangat “Ibu”. Tak ada cerita atau dekapan yang menenangkan. Hanya suara animasi yang dingin dan asing, menggantikan suara ibu yang seharusnya membacakan dongeng sebelum mereka tidur. Sudah lebih dari dua tahun mereka sering dibiarkan berdua di rumah hingga larut malam. Ayah mereka sibuk dengan urusan di luar rumah, berangkat sejak pagi buta, pulang menjelang tengah malam. Tak pernah ada ruang, bahkan sekadar keingintahuan anak-anak tentang ke mana perginya ayah seharian, atau apa yang telah mereka makan dan lakukan sepanjang hari. Semuanya menguap tanpa jejak perhatian.

Sejak ayah dan ibu mereka berpisah, kedua anak ini "dibawa" sang ayah, bukan atas kehendak mereka, melainkan karena keputusan yang dipaksakan. Mereka sempat percaya bahwa tinggal bersama ayah akan menjadi awal yang baru. Nyatanya, itu menjadi petaka yang sunyi. Hari-hari berlalu dalam pembiaran. Mereka tumbuh dalam pelukan gadget, bukan dalam pelukan kasih. Tak ada rutinitas yang menumbuhkan, tak ada kehangatan yang menyentuh. Namun hidup memberi harapan. Ibu mereka, yang selama ini menahan rindu dan kegelisahan, akhirnya bertindak. Ia mengambil kembali anak-anaknya, yang dari sisi usia sebetulnya merupakan hak ibu untuk mengasuhnya, menyelamatkan mereka dari sunyi yang membeku dan dari pengasuhan yang terabaikan. Kini, kehidupan anak-anak itu perlahan berubah. Hari-hari mereka kembali berwarna. Ada waktu untuk belajar, bermain di alam terbuka, bermain game yang tetap melibatkan interaksi nyata dan emosi sosial dengan waktu bermain yang diatur. Ada tawa, ada pelukan, dan yang paling penting: ada ibu. Setiap malam, mereka kini tertidur bukan dalam sorotan layar, tetapi dalam dekapan hangat dan cerita pengantar tidur yang lembut. Mereka tidak lagi tidur dengan mata lelah menatap gadget, melainkan dengan hati yang damai dalam pelukan kasih sayang. Sebuah penyelamatan, bukan hanya dari ketergantungan layar, tapi dari sepi yang diam-diam bisa menghancurkan masa depan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan gadget seperti smartphone dan tablet oleh anak-anak usia dini meningkat drastis. Anak-anak yang bahkan belum lancar berbicara sudah akrab dengan layar sentuh dan video animasi. Anak usia 1–5 tahun kini terbiasa mengakses YouTube Kids, TikTok, hingga game daring tanpa pengawasan yang memadai. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Gadget menjadi “mainan utama” yang menggantikan peran boneka, buku cerita, atau aktivitas motorik seperti bermain di luar rumah. Situasi ini diperparah saat pandemi COVID-19, ketika anak-anak mulai belajar dari rumah dan screen time dianggap lumrah.

Orang Tua Menyerahkan Peran Pengasuhan pada Gadget. Kesibukan orang tua, baik sebagai pekerja kantoran maupun wirausaha, membuat interaksi dengan anak menjadi minim. Pulang kerja dalam keadaan lelah, sebagian orang tua memilih memberikan gadget agar anak tenang dan tidak rewel. Tanpa disadari, perlahan peran pengasuhan berpindah tangan, dari pelukan orang tua  ke layar gawai. Gadget digunakan sebagai alat untuk menenangkan anak saat menangis, menggantikan kegiatan membacakan dongeng, bahkan digunakan saat makan agar anak diam. Praktik ini, meskipun tampak praktis, sebenarnya melemahkan ikatan emosional yang sangat penting pada masa emas pertumbuhan anak.

Hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 65% anak usia 3–6 tahun di Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 3 jam per hari di depan layar. Sebagian besar mengakses video hiburan, game, dan aplikasi tanpa pendampingan orang dewasa. Laporan lain dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menyebutkan bahwa penggunaan internet oleh anak-anak usia prasekolah meningkat 2 kali lipat dibandingkan lima tahun lalu, terutama di daerah perkotaan. Ini adalah sinyal darurat tentang kualitas pengasuhan dan kebutuhan literasi digital di lingkungan keluarga.

Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung pasif secara verbal dan sulit berinteraksi secara alami dengan orang lain. Mereka lebih banyak menerima stimulasi satu arah, bukan percakapan yang sehat. Perkembangan Bahasa dan sosial terganggu. Selain itu, anak lebih mudah tantrum, sulit fokus, dan kecanduan. Gadget memberi stimulasi instan yang membuat anak terbiasa dengan respon cepat. Akibatnya, mereka jadi mudah marah jika keinginannya tidak segera dipenuhi, sulit berkonsentrasi, dan sangat tergantung pada layar. Yang lebih fatal, anak-anak akan kehilangan kesempatan untuk  bonding emosional dengan orang tua. Waktu bersama yang seharusnya digunakan untuk bercerita, bermain, dan berpelukan tergantikan oleh gadget. Akibatnya, ikatan batin antara anak dan orang tua, menjadi renggang dan hambar. Hal ini dapat terjadi karena kesibukan pekerjaan membuat orang tua kurang energi untuk hadir secara penuh bagi anak. Dalam kelelahan itu, perhatian pada anak jadi hal yang mudah terabaikan. Lalu orang tua berpikiran gadget merupakan  solusi yang cepat. Padahal, ini hanya solusi instan yang menyimpan masalah jangka panjang. Solusi orang tua ini disebabkan kurangnya edukasi tentang parenting digital. Banyak keluarga belum memahami dampak penggunaan gadget secara berlebihan. Tanpa bekal pengetahuan, penggunaan gadget dibiarkan tanpa batas dan tanpa pendampingan.

            Berdasarkan paparan di atas, maka orang tua seharusnya melakukan pengaturan screen time secara bijak. Tetapkan batas waktu harian, sesuai usia anak. Pastikan gadget bukan pengasuh utama, melainkan alat bantu yang digunakan dengan pengawasan. Lalu gantikan waktu layar dengan waktu bersama anak-anak. Gunakan waktu luang untuk mendongeng, bermain, dan bercengkerama dengan anak. Kegiatan ini jauh lebih bermakna untuk tumbuh kembang mereka. Anak butuh kehadiran yang utuh, didengar, dipeluk, diperhatikan. Cinta dan koneksi emosional dari orang tua jauh lebih berharga daripada gadget mana pun.

Pada awalnya, anak tidak pernah benar-benar membutuhkan gadget terbaru. Mereka tidak meminta ponsel mahal atau tablet canggih. Yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah waktu, waktu yang utuh dan hadir dari orang tuanya. Justru orang tua yang menyimpulkan, agar anak-anak lebih nyaman bermain game di gadget, membelikan gadget terkini yang ‘performance’nya lebih baik dan itu artinya akan membuat anak lebih betah dan nyaman di depan layar gadget. Dengan demikian orang tua lebih “merdeka” dengan kegiatannya tanpa ada gangguan dari anak-anak yang sebetulnya butuh perhatian, bukan hanya tatapan sekilas sambil bermain handphone. Mereka rindu kasih sayang yang nyata, bukan pengganti digital yang dingin dan tak bernyawa. 

Gadget memang bisa menghibur, mengalihkan perhatian sesaat dari tangis atau rewel. Tapi hanya pelukan orang tua yang bisa menyembuhkan luka batin yang tak terlihat. Hanya kehadiran orang tua yang mampu membangun pondasi emosi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, bahagia, dan penuh percaya diri. Maka, sebelum anak-anak kita terlanjur tumbuh dalam kesepian yang disamarkan layar, mari kembali hadir untuk mereka. Hadir dengan hati, dengan pelukan, dan dengan waktu yang berkualitas. Karena dalam pelukan orang tua, anak menemukan dunia yang utuh, dunia yang tak bisa digantikan oleh layar secanggih apa pun.(fsy).

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Juli 2025

 

Generasi Sandwich: Terjepit Tanggung Jawab, Terlupakan Diri

Oleh: Febri Satria Yazid

Banyak yang mengira anak muda zaman sekarang hidup santai. Foto-foto di Instagram menampilkan gaya hidup yang tampak menyenangkan, nongkrong di kafe, bekerja dari coworking space, liburan ke luar negeri. Senyum cerah terpajang di linimasa hampir setiap saat. Namun, siapa sangka, di balik senyuman itu tersembunyi beban yang tidak ringan. Mereka bangun pagi dengan cemas, memikirkan cicilan yang harus dibayar, target kerja yang semakin menekan, dan ekspektasi keluarga yang terus menggunung.

Menjadi dewasa ternyata bukan hanya tentang kebebasan memilih, tapi juga tentang tanggung jawab yang sering kali lebih besar dari kemampuan pundak menanggungnya. Anak muda hari ini banyak memberi waktu, tenaga, pikiran, untuk pekerjaan, keluarga, bahkan relasi yang kadang tidak memberi balasan setimpal. Mereka merawat yang tua, menjaga yang muda, tapi siapa yang merawat mereka? Hidup mereka tidak semudah filter media sosial. Mereka tersenyum, namun tak semua tahu bahwa senyuman itu adalah bentuk paling sopan dari rasa lelah yang mendalam. Mereka terjepit di tengah harapan dan kenyataan, antara keinginan membahagiakan semua orang dan pertanyaan yang terabaikan: "Siapa yang membahagiakan aku?"

Istilah "generasi sandwich" diperkenalkan pertama kali oleh Dorothy A. Miller pada tahun 1981. Ia menggambarkan individu yang secara finansial dan emosional berada di antara dua generasi: orang tua yang mulai renta dan anak-anak yang masih membutuhkan banyak dukungan. Layaknya isi roti lapis, mereka terhimpit di tengah. Di satu sisi, mereka harus membiayai dirinya sendiri atau bagi yang telah berkeluarga harus bertanggungjawab terhadap pendidikan dan kehidupan anak-anaknya, di sisi lain mereka menanggung biaya kesehatan dan kebutuhan hidup orang tuanya.

Di Indonesia, fenomena ini semakin nyata. Banyak orang tua yang memasuki masa tua tanpa bekal finansial yang cukup. Kurangnya kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang membuat sebagian besar dari mereka tidak memiliki tabungan pensiun, asuransi, atau sumber penghasilan pasif yang dapat diandalkan. Akibatnya, ketika mereka tidak lagi produktif, anak-anaklah yang menjadi sandaran utama. Lebih dari itu, tak jarang orang tua yang masih dalam usia produktif pun mulai membebankan tanggung jawab finansial kepada anaknya. Bisa karena pengelolaan keuangan keluarga yang buruk, atau karena beban nafkah yang tak seimbang, misalnya anak banyak, penghasilan terbatas, atau bahkan akibat kegagalan ekonomi yang mereka timpakan pada anaknya demi “penyelamatan keluarga.”

Dalam budaya kita, berbakti kepada orang tua adalah nilai luhur yang dijunjung tinggi. Namun, nilai ini sering dibelokkan maknanya, terutama dalam urusan finansial. Tidak sedikit orang tua yang secara halus, bahkan terang-terangan menuntut anak-anak mereka untuk menopang hidup mereka, dengan dalih bahwa itu adalah bentuk bakti yang wajib. Padahal, bila ditelaah lebih dalam, bantuan anak kepada orang tua seharusnya bersifat sukarela, bukan paksaan emosional. Banyak orang tua yang selama masa produktifnya tidak memiliki perencanaan finansial. Fokus mereka hanya pada kebutuhan saat ini, tanpa berpikir tentang hari tua. Sebagian lainnya menganggap bahwa anak adalah "tabungan masa depan". Pandangan seperti ini tumbuh kuat dalam budaya Timur, tapi konteks zaman telah berubah. Biaya hidup meningkat, pekerjaan semakin kompetitif, dan tekanan sosial kian tinggi. Anak-anak yang kini menjadi tulang punggung keluarga, harus berjuang membangun masa depan, namun di saat yang sama mereka juga harus menambal kekurangan masa lalu yang bukan kesalahan mereka.

Ketika orang tua tidak memiliki dana pensiun, anak-anak pun harus mengambil peran sebagai penopang utama. Mereka harus membagi pendapatan untuk kebutuhan sendiri, anak-anak mereka, dan orang tua. Tak jarang, hal ini menimbulkan tekanan finansial yang serius. Bahkan tidak sedikit yang harus mengorbankan mimpi pribadi, menunda memiliki rumah, atau menanggung utang yang menumpuk. Namun, lebih dari sekadar soal uang, ketergantungan ini juga berdampak pada kesehatan mental. Anak-anak yang awalnya ingin berbakti, bisa berubah menjadi pribadi yang lelah, mudah tersulut emosi, dan menyimpan kejengkelan tersembunyi. Sementara orang tua yang bergantung terus-menerus, bisa merasa tidak berdaya atau kehilangan harga diri. Hubungan pun menjadi dingin, atau bahkan rusak, karena komunikasi berubah menjadi beban, bukan kasih sayang.

Membantu orang tua adalah perbuatan mulia. Namun, membantu bukan berarti mengorbankan hidup dan keluarga sendiri. Perlu ditegaskan bahwa bantuan anak kepada orang tua, terutama dalam hal finansial, adalah bentuk sedekah, bukan hutang atau kewajiban mutlak. Anak boleh memberi saat mampu, dan tidak berdosa saat belum sanggup. Apalagi bila anak tersebut masih harus membiayai keluarga inti, membangun karier, dan menjaga keseimbangan mental serta fisiknya sendiri. Orang tua yang bijak seharusnya memahami realitas ini. Mereka perlu menyadari bahwa tanggung jawab utama anak dewasa adalah menjalani kehidupannya sendiri, membangun keluarga, menata masa depan, dan menjaga kesehatan jiwa. Memberikan tekanan dengan alasan budaya atau agama, tanpa memahami kondisi anak, bisa menjadi bentuk ketidakadilan yang terselubung dalam kemuliaan.

Karena itu, penting bagi setiap individu, terutama yang masih berada di usia produktif, untuk mulai merencanakan masa tua sejak dini. Perencanaan pensiun bukan hanya soal uang, tetapi juga soal menjaga martabat dan kemandirian. Investasi, tabungan jangka panjang, asuransi, dan literasi keuangan adalah pilar penting yang harus dibangun. Bagi orang tua yang terlambat menyadari pentingnya perencanaan, masih ada jalan untuk memperbaiki kondisi. Mungkin dengan mencari penghasilan tambahan yang ringan, mengurangi gaya hidup konsumtif, atau memanfaatkan aset yang ada untuk menciptakan kemandirian. Masa tua seharusnya menjadi fase tenang dan bermartabat, bukan masa bergantung yang penuh beban dan rasa bersalah. Sebaliknya, generasi muda juga perlu belajar untuk menetapkan batas sehat antara kasih sayang dan pengorbanan yang merusak. Mereka perlu menyadari bahwa mencintai diri sendiri juga merupakan bentuk tanggung jawab. Ketika seseorang mampu mencintai dirinya, ia akan lebih sehat secara mental, lebih kuat secara finansial, dan lebih tulus ketika membantu orang lain, termasuk orang tuanya.

Generasi sandwich bukanlah generasi yang lemah. Mereka adalah generasi yang sedang berjuang di tengah badai, berdiri di antara dua generasi, memberi tanpa henti, tapi sering kali tak sempat menerima. Maka jangan anggap enteng senyum mereka, karena bisa jadi itu adalah cara paling santun  untuk menyembunyikan luka. Sudah saatnya kita meluruskan makna berbakti, menumbuhkan kesadaran finansial, dan membangun budaya saling memahami. Jika anak memberi, biarlah itu tumbuh dari cinta, bukan dari tekanan atau rasa bersalah.(fsy)

 

Minggu, 13 Juli 2025

Pria Magnetis : Kekuatan Diam, Disiplin Diri dan Keaslian yang Menginspirasi

 

Pria Magnetis: Kekuatan Diam, Disiplin Diri, dan Keaslian yang Menginspirasi.

Oleh: Febri Satria Yazid

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang bising, penuh sorotan, dan haus validasi, kehadiran seorang pria yang tenang, otentik, serta berwibawa menjadi anomali yang memikat. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk didengar, tidak pula haus pengakuan agar dihormati. Dialah pria magnetis, sosok yang memancarkan kekuatan batin dari ketenangan dan keteguhan sikap.

Magnetis adalah sifat yang mampu menarik perhatian, ketertarikan, dan kekaguman orang lain secara alami, tanpa paksaan. Dalam konteks kepribadian, daya tarik ini tidak hanya berasal dari penampilan fisik, melainkan dari aura, karakter, dan sikap yang melekat pada diri seseorang. Julukan magnetis tidak hanya untuk pria, bisa juga untuk wanita. Wanita magnetis sering digambarkan sebagai wanita yang berpenampilan anggun, percaya diri dan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, dan kehadirannya meninggalkan kesan yang mendalam. Sering kita mendengar pernyataan ,”dia bukan wanita yang paling cantik di ruangan ini, tapi aura magnetisnya membuat semua mata tertuju padanya”. Jadi label magnetis sangat bisa digunakan untuk siapa saja , tanpa batas gender, asal memang memiliki daya tarik yang menginspirasi dan autentik, bukan sekedar pesona fisik semata. Untuk bahasan kali ini, kita fokuskan pada pria, di lain kesempatan kita akan ulas tentang wanita magnetis.

Pria magnetis menciptakan rasa nyaman, membangun koneksi emosional, dan menginspirasi orang di sekitarnya melalui cara berpikir, ketulusan, serta perlakuan yang bermartabat. Kepercayaan diri yang ia miliki tidak dibalut kesombongan. Ketika menghadapi tekanan, ia tetap tenang. Ia tidak berpura-pura menjadi sosok lain, melainkan tampil apa adanya. Ia hidup dalam prinsip dan konsisten terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Komunikasinya penuh makna dan bijaksana. Keberadaannya memberikan energi positif di mana pun ia berada. Inilah inti dari pesona pria magnetis, kehadiran yang kuat tanpa harus mencari sorotan.

Diam bagi pria magnetis bukan bentuk kelemahan, melainkan wujud pengendalian diri. Keheningan yang ia miliki adalah ruang penuh energi yang tertata. Ketika ia memilih diam, itu bukan karena kosong, melainkan karena ia memahami bahwa tidak semua hal perlu dijawab dengan kata-kata. Diamnya menyampaikan pesan, menciptakan rasa hormat, bahkan menghadirkan pengaruh yang lebih dalam. Setiap kata yang ia ucapkan ibarat anak panah, tajam, tepat, dan penuh makna. Ia tidak berbicara untuk mengisi kekosongan, tetapi untuk menyampaikan yang penting. Maka, ketika ia berbicara, orang mendengar. Dan ketika ia diam, orang memperhatikan.

Di era serba citra, menjadi diri sendiri adalah bentuk keberanian luar biasa. Banyak orang berlomba-lomba tampil sempurna, menyembunyikan kekurangan, demi kesan luar yang mengilap. Namun pria magnetis justru memilih jalan yang berbeda. Ia tidak takut menampakkan siapa dirinya yang sesungguhnya, meskipun hal itu bisa saja berdampak buruk terhadap penilaian orang terhadap kepribadian dirinya . Ia memeluk masa lalu dengan segala luka, kegagalan, dan keberhasilannya. Ia tidak malu membagikan proses jatuh bangunnya, karena ia tahu bahwa kejujuran adalah pondasi dari kepercayaan, bahkan berkeyakinan dengan berbagi cerita akan menginspirasi mereka yang mendengarkan atau membaca kisahnya. Otentisitasnya menciptakan koneksi yang tulus. Orang merasa diterima, dimengerti, dan terinspirasi oleh keberaniannya untuk jujur.Keaslian juga membuatnya unik. Ia tidak meniru siapa pun, karena ia tahu nilai dirinya bukan ditentukan oleh penilaian orang lain, tetapi oleh seberapa setia ia pada nilai-nilai yang ia pegang. Ketulusan inilah yang menjadi kekuatan magnetis yang tak tergantikan.

Pria magnetis tidak hidup dari pengakuan orang lain. Ia tidak sibuk mencari persetujuan untuk merasa bernilai. Ia tahu bahwa kekuatan maskulin justru merosot ketika seseorang terlalu sibuk ingin disukai. Ia tidak takut menghadapi percakapan yang sulit, karena ia tidak tergantung pada pujian. Dengan keteguhan hati, ia tetap berdiri meski tak ada yang mengelukan. Ia tidak perlu membuktikan apa pun. Prinsip yang ia pegang membuatnya dihormati, bukan karena pencitraan, tetapi karena konsistensinya dalam bersikap dan memegang teguh baik itu janji, tugas, kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran tinggi.

Pria magnetis bukan hanya menarik karena karismanya, melainkan karena integritasnya. Di balik kepribadiannya yang kokoh, ada satu nilai yang menjadi fondasi yaitu  disiplin diri. Disiplin adalah kemampuan untuk bertindak bukan karena dorongan emosi, tapi karena komitmen terhadap nilai yang diyakini. Ia tidak mudah goyah oleh suasana hati. Ia tidak mencari alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk terus melangkah. Disiplin baginya adalah bentuk kesetiaan terhadap standar diri. Ia tetap bertindak benar meski tak ada yang mengawasi. Ia setia pada rutinitas yang membangun, meski hasilnya belum terlihat. Seperti otot, disiplin harus terus dilatih. Jika dibiarkan melemah, maka karakter pun bisa luntur. Pria magnetis menjaga kedisiplinannya dengan penuh kesadaran. Ia bangkit ketika gagal, tidak terpuruk dalam penyesalan. Ia tetap konsisten dalam ujian, tidak berubah meski dunia di sekelilingnya berubah. Apa yang dilihat orang lain darinya adalah cerminan dari kedalaman pribadinya.

Pria magnetis memiliki kehadiran yang tak tergantikan. Bukan karena ia mencoba mendominasi, melainkan karena langkahnya penuh keyakinan. Ia tidak menggertak atau memaksa. Ia hadir dengan stabilitas emosi dan ketenangan yang menular. Di tengah kekacauan, ia tetap tenang. Di saat orang lain panik, ia tetap berpijak. Ia tidak menghindar dari kritik. Ia mendengarkan tanpa membalas dengan kemarahan. Ia membimbing, bukan meminta simpati. Keputusan-keputusannya diambil dengan tenang, bukan dengan gembar-gembor. Ia tidak mengemis perhatian, tidak pula hidup untuk menyenangkan semua orang. Kehadirannya menenangkan, keputusannya dipercaya. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada sorotan lampu, tetapi dalam kemampuan untuk tetap teguh saat tidak ada yang melihat.

Menjadi pria magnetis bukan tentang pencapaian besar atau popularitas semu. Ini adalah tentang kualitas batin, tentang kedewasaan yang dibangun dari keheningan, disiplin, dan kejujuran. Pria magnetis tidak menunggu dunia mengakuinya. Ia membangun dunianya sendiri dari dalam.(fsy)

 

 

Rabu, 25 Juni 2025

Jejak Kata, Jembatan Waktu

 

Jejak Kata, Jembatan Waktu

Oleh ; Febri Satria Yazid

Literasi sebagai fondasi peradaban dan simfoni sebagai harmoni kehidupan dalam suatu orkestra tempat dimana setiap individu memainkan instrumen pengetahuan, pengalaman dan nilai. Literasi sebagai penyeimbang di tengah gempuran era digital dan derasnya arus informasi . Kita mesti memandang literasi bukan hanya sebagai sarana tapi sebagai simfoni kehidupan, yang mendamaikan yang retak, menyatukan yang terpisah, karena  manusia diciptakan Allah SWT untuk terhubung, dengan dirinya, sesama, dan lingkungannya. Literasi menyuarakan harapan di tengah keraguan. Setiap zaman punya tantangannya, dan dalam setiap tantangan terselip keraguan.  Literasi hadir bukan untuk memberi semua jawaban, tetapi untuk menyalakan harapan, mengajak kita berpikir kritis, menumbuhkan empati, dan menuliskan masa depan yang lebih baik. Literasi sebagai simfoni kehidupan adalah tentang keberanian menyatukan nada-nada yang berbeda menjadi harmoni. Ia bukan sekadar alat untuk belajar, tapi cara untuk menyembuhkan, menghubungkan, dan menghidupkan harapan. Karena dalam dunia yang sering gaduh oleh prasangka dan perpecahan, hanya lewat pemahaman, yang dilahirkan oleh literasi, kita bisa menyusun simfoni yang membawa damai bagi kehidupan.

Membangun jembatan antara Digital Native dan Generasi Tradisional menjadi sangat penting di tengah derasnya arus perubahan zaman, tantangan literasi tak lagi hanya soal akses atau minat baca, melainkan juga tentang kesenjangan generasi. Fenomena ini semakin terasa ketika generasi muda yang tumbuh dalam era digital (digital native) harus berbagi ruang dengan generasi tradisional yang dibesarkan dalam budaya analog. Keduanya membawa cara pandang, gaya belajar, bahkan nilai-nilai yang berbeda. Maka, menciptakan ruang literasi yang inklusif menjadi pekerjaan rumah bersama.

Generasi muda saat ini terbiasa mengakses informasi dengan cepat melalui internet, belajar lewat video interaktif, atau memahami konsep melalui infografik dan simulasi digital. Sebaliknya, generasi tua masih memegang kepercayaan kuat pada buku fisik, belajar dari mendengarkan secara langsung, atau berdiskusi dalam forum tatap muka. Kondisi ini menghadirkan tantangan dalam menciptakan ruang belajar yang mampu menampung keduanya. Bagaimana merancang program literasi yang tetap relevan bagi kaum muda, namun tidak mengasingkan yang lebih tua? Apakah mungkin menyandingkan teknologi digital dengan pendekatan personal secara harmonis?

Di ranah komunikasi, jurang generasi juga tampak jelas. Generasi muda gemar menggunakan bahasa singkat, slang, emoji, atau istilah populer dari budaya internet. Bagi generasi tua, semua ini bisa membingungkan, bahkan membuat mereka merasa tidak dianggap. Mereka cenderung memakai bahasa yang lebih formal, kaya nilai budaya, dan sarat kesantunan. Kesenjangan bahasa ini tak jarang menimbulkan salah paham atau rasa tidak nyambung dalam kegiatan bersama, termasuk saat menyampaikan pesan literasi atau bekerja dalam proyek kolaboratif. Generasi muda memandang literasi sebagai keterampilan multifaset, bukan hanya baca tulis, tapi juga mencakup literasi digital, visual, finansial, hingga media sosial. Sementara itu, generasi tua sering kali masih mengidentikkan literasi dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Perbedaan ini menciptakan ketimpangan pemahaman dan ekspektasi. Generasi tua bisa merasa “ketinggalan zaman” atau dianggap tidak relevan. Sebaliknya, generasi muda bisa menganggap pendekatan lama sebagai kuno dan tidak menarik. Ini dapat menghambat upaya membangun ruang literasi yang saling menghargai.

Realita lain yang tak bisa diabaikan adalah keterbatasan akses dan keterampilan teknologi di kalangan lansia. Banyak dari mereka belum terbiasa, bahkan takut menggunakan gawai seperti smartphone, laptop, atau platform e-book. Padahal, literasi masa kini banyak bergantung pada platform digital, dari perpustakaan daring hingga kelas virtual. Ketika teknologi menjadi pintu utama literasi, maka kelompok yang tidak memiliki kunci akan tertinggal. Inilah pentingnya pendampingan intergenerasi yang saling menguatkan, bukan saling menghakimi.

Generasi muda membawa semangat ekspresi bebas, efisiensi, dan inovasi. Sementara generasi tua masih menjunjung tinggi nilai kesantunan, kedisiplinan, serta norma sosial yang bersifat hierarkis. Dalam ruang literasi, perbedaan ini sering terlihat dalam cara menyampaikan ide, menulis cerita, atau berdiskusi. Tanpa kesadaran akan perbedaan nilai ini, interaksi bisa berujung pada konflik atau ketegangan. Maka diperlukan pendekatan yang empatik, di mana kedua pihak bersedia membuka diri dan memahami lensa nilai masing-masing.

Kadang, generasi muda merasa lebih unggul karena melek teknologi. Di sisi lain, generasi tua merasa semakin terpinggirkan dari arus zaman. Ketimpangan ini bisa memunculkan rasa minder, frustasi, atau bahkan penolakan terhadap upaya kolaborasi. Untuk itu, penting membangun ruang literasi yang bukan hanya mempertemukan, tetapi juga menyatukan kedua generasi dalam posisi sejajar. Setiap generasi memiliki kekuatan dan warisan pengetahuan yang berharga, bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk dipadukan. Literasi intergenerasi adalah jembatan yang tak hanya menghubungkan dua zaman, tetapi juga dua cara pandang terhadap kehidupan. Dalam membangun bangsa yang berdaya literasi, kita tidak bisa meninggalkan yang tua demi yang muda, atau sebaliknya. Hanya dengan saling mendengar, saling belajar, dan saling menghargai, maka simfoni literasi bisa dimainkan oleh semua generasi,bersama-sama.

Pendekatan intergenerasi  saat ini menjadi relevan karena sejumlah perubahan sosial, budaya, dan demografis yang menuntut kerja sama lintas usia untuk menjaga keberlanjutan nilai, pengetahuan, dan harmoni sosial, didasari oleh faktor  bonus demografi dan penuaan penduduk Indonesia dimana jumlah penduduk usia produktif tinggi, namun jumlah lansia juga meningkat pesat. Hal ini menciptakan peluang dan tantangan, bagaimana generasi tua dan muda bisa saling mendukung, bukan saling bersaing. Pendekatan intergenerasi membantu menjembatani kesenjangan ini lewat kegiatan bersama, misalnya anak muda mengajarkan teknologi, lansia membagikan nilai hidup dan sejarah lisan.

Banyak nilai luhur, tradisi, dan pengalaman hidup yang dimiliki generasi tua terancam hilang jika tidak diwariskan. Literasi intergenerasi menjadi sarana transfer nilai budaya dan kearifan lokal secara alami melalui dialog, cerita, dan kegiatan kolaboratif. Dunia modern sering memecah ikatan sosial seperti  keluarga terpisah jarak, generasi tidak lagi sering berkumpul. Pendekatan intergenerasi bisa mengembalikan rasa kebersamaan, gotong royong, dan empati lintas usia.

Pendekatan intergenerasi bukan sekadar tren, tapi kebutuhan zaman. Ia mengajak kita untuk tidak hanya hidup berdampingan, tapi saling mendengarkan, belajar, dan tumbuh bersama demi masa depan yang berakar pada nilai, namun bersayap pada kemajuan. Manfaat literasi intergenerasi bagi generasi muda adalah mendapatkan kearifan lokal, sejarah, nilai budaya dari generasi tua dan memperkuat empati dan komunikasi lintas usia. Sedangkan Bagi generasi tua akan merasa dirinya dihargai, didengar, dan berguna. Selain itu generasi tua bisa belajar teknologi baru atau budaya baru dari generasi muda.

Bentuk Kegiatan Literasi Intergenerasi dapat berupa  Program baca bareng kakek-nenek dan cucu, cerita rakyat dari orang tua untuk anak muda, lalu ditulis/didigitalisasi atau mengadakan kelas menulis atau mendongeng bersama lintas usia. Klub buku lintas generasi dapat melaksanakan Workshop teknologi (generasi muda mengajarkan IT kepada lansia). Salah satu bentuk paling menyentuh dari literasi intergenerasi adalah ketika peserta muda dan lansia saling berbagi kisah. Melalui kutipan pengalaman pribadi, kita melihat bahwa literasi bukan sekadar media belajar, tetapi ruang berbagi makna hidup.Seorang remaja bisa berkata: "Saya baru benar-benar memahami arti kesabaran setelah mendengar cerita perjuangan nenek menempuh pendidikan di masa penjajahan." Sementara seorang lansia bisa mengungkapkan: "Saya merasa dihargai kembali ketika cucu saya mengajarkan cara menggunakan aplikasi membaca digital. Dunia terasa lebih luas". Pertukaran pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan, tapi juga mempererat empati, membangun jembatan batin antar generasi.

Untuk memastikan literasi intergenerasi tidak sekadar menjadi wacana, perlu dukungan konkret dari , pemerintah dengan menyusun kebijakan nasional yang mendorong integrasi program literasi lintas usia, seperti Gerakan Literasi Keluarga dan Sekolah Ramah Lansia. Sekolah dapat memberikan ruang dalam kurikulum untuk proyek kolaboratif yang melibatkan wawancara dan dokumentasi cerita dari generasi sebelumnya.

Komunitas Literasi juga dapat berperan menyelenggarakan klub membaca intergenerasi, dapat mendorong literasi digital untuk lansia dengan pendekatan humanis, tidak menggurui, tapi mendampingi. Literasi adalah jembatan cinta antar generasi, tempat kita saling mengisi,  saling belajar, bukan bersaing. Dalam setiap dialog, cerita, atau tawa yang dibagikan, terdapat benih kasih yang tumbuh, menghidupkan nilai-nilai, menghargai warisan, dan menyambut masa depan. Generasi muda butuh akar, generasi tua butuh sayap. Literasi adalah ruang di mana keduanya bertemu, saling menumbuhkan, saling menghidupkan.(fsy)

 

 

Senin, 02 Juni 2025

Dua Tradisi, Satu Nilai : Menjaga Warisan Budaya Perbedaan

 

Dua Tradisi, Satu Nilai: Menjaga Warisan Budaya dalam Perbedaan

Oleh ; Febri Satria Yazid

*pemerhati sosial

Tidak terasa tahun ini telah 39 tahun saya menetap di Tataran Pasundan. Meninggalkan Ranah Minang pada bulan Mei 1986, merantau ke Tanah Sunda yang  masyarakatnya tidak terlalu menekankan budaya merantau.  Orang Sunda lebih senang tinggal di tanah kelahiran. Sementara bagi “urang awak , merantau adalah bagian dari tradisi dan kebanggaan. Anak laki-laki didorong untuk merantau demi mencari ilmu dan rezeki. Tradisi pertama yang saya amati ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sunda.

Perbedaan antara kebudayaan Sunda dan Minangkabau mencerminkan kekayaan dan keragaman budaya Indonesia. Keduanya memiliki akar adat istiadat, nilai, dan gaya hidup yang khas. Dua tradisi, satu nilai. Filosofi Minangkabau “dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang” mempunyai makna di mana pun kita berada, kita harus menghormati adat, budaya, dan aturan setempat. Artinya, seseorang yang merantau atau hidup di luar kampung halamannya harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, bersikap toleran, menghargai orang lain, serta tidak memaksakan kebiasaan atau nilai sendiri di tempat baru. Nilai inilah yang menyebabkan para perantau Minang mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan baik di perantauan.

Ketika jumpa pak Jumari Haryadi Kohar Pimpinan Redaksi Jawa Barat News, dalam acara pameran portofolio minggu lalu di Mozi Institut, Jalan Kamarung no.5B Citeureup Cimahi, disela acara kami “berbisik” (berbincang asyik) tentang  topik sesuai judul artikel ini ; Dua Tradisi, Satu Nilai: Menjaga Warisan Budaya dalam Perbedaan. Dalam bertutur, orang Sunda sangat sopan, terlihat dari saat melewati orang lain, mereka selalu katakan “punten”. Kata “punten” dalam bahasa Sunda adalah salah satu kata yang sangat khas dan sarat makna sopan santun, bentuk ungkapan permisi yang digunakan saat seseorang akan melewati orang lain (jika yang mau lewat lupa, yang dilewati sambil bercanda yang berkata “punten”), ungkap pak Jumari. Kata punten juga digunakan ketika akan masuk ke rumah atau ruangan, akan menyela pembicaraan dan jika ingin memulai percakapan dengan orang lain. “Punten” bukan hanya sekadar “permisi,” tapi juga mencerminkan ; kesopanan, kerendahan hati, rasa hormat terhadap orang lain, terutama yang lebih tua atau dihormati, misalnya  “Punten, tiasa naroskeun hiji hal?” (Permisi, boleh saya bertanya sesuatu?). Kini banyak orang non Sunda juga memakai “punten” dalam kehidupan sehari-hari, karena dianggap lebih halus dan menyenangkan didengar dibandingkan kata “permisi” . Menggunakan Bahasa Sunda, mempunyai tingkatan tutur berdasarkan sopan santun (lemes, sedang, kasar) yang disesuaikan dengan lawan bicara ( yang lebih muda, sepantaran atau kepada yang lebih tua ).

Dalam bahasa Minangkabau, dikenal istilah kato manurun (cara berbicara kepada orang yang lebih muda, sederajat, atau anak-anak), kato mandaki(cara berbicara kepada orang yang lebih tua, dihormati, atau berpangkat) , dan kato malereng (cara berbicara kepada orang yang sebaya atau sejajar, seperti teman atau rekan kerja), yang merupakan bagian dari tata krama bertutur atau etika berbicara yang mencerminkan nilai-nilai sopan santun, hierarki sosial, dan kearifan lokal. Tiga jenis "kato" ini adalah bagian dari nilai adat Minangkabau yang menjunjung tinggi kesantunan dan keseimbangan sosial. Masyarakat Minang percaya bahwa bahasa adalah cermin budi, dan bertutur dengan tepat adalah bentuk penghormatan terhadap orang lain. Menggunakan Bahasa Minangkabau, dengan dialek yang berbeda-beda tergantung daerah, tetapi tidak terlalu kaku dalam tingkatan tutur, mengandung makna bahwa meskipun masyarakat Minang sangat menjunjung tinggi sopan santun dalam berbicara, namun bahasa Minang tidak memiliki sistem tingkatan bahasa. Tidak ada perubahan besar dalam bentuk kata, tetapi lebih pada cara penyampaian, intonasi, dan kehati-hatian dalam berkata. Tidak sekompleks atau sekaku seperti yang dimiliki oleh Bahasa Sunda (Loma – Sedeng – Lemes ).

Perbedaan lain yang kami cermati adalah tentang filosofi dan pandangan hidup. Orang Sunda cenderung menjunjung tinggi kesopanan, kelembutan, dan kehalusan budi (prinsip “someah hade ka semah”, ramah pada tamu). Sementara Orang Minangkabau Filosofi hidup lebih kuat pada kemandirian, keberanian, dan kecerdasan berdiplomasi. Prinsip hidup: “Alam takambang jadi guru” (alam semesta yang terbentang atau terbuka luas, menjadi sumber ilmu, pedoman, atau pembimbing). dan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (adat berpedoman kepada ajaran agama Islam dan ajaran Islam berpedoman kepada kitab suci Al-qur’an). Nilai utama orang Sunda adalah Kesopanan, kelembutan, harmoni, sementara orang Minagkabau kemandirian, kecerdasan, keberanian. Gaya hidup orang Sunda adalah dengan menghindari konflik, mengutamakan damai, sementara orang Minang pandai berbicara, suka merantau, berpikir maju.

Perbedaan lain dapat kita cermati dari sistem kekerabatan. Orang Sunda menganut sistem patrilineal, yaitu garis keturunan diambil dari pihak ayah. Sementara Minangkabau menganut sistem ma trilineal, yaitu garis keturunan diambil dari pihak ibu. Anak-anak termasuk ke dalam suku ibunya, dan harta pusaka diwariskan melalui garis ibu.

Dalam peran gender dan adat pernikahan kaum Laki-laki  Sunda lebih dominan dalam keluarga, namun hubungan antara suami-istri bersifat egaliter. Dalam pernikahan, pihak laki-laki biasanya datang melamar. Sementara Perempuan Minangkabau memegang peranan penting dalam keluarga karena sistem matrilineal. Dalam pernikahan, keluarga perempuan yang "menjemput" atau melamar laki-laki (tradisi bajapuik).

Rumah Adat disebut Imah, biasanya berbentuk panggung dengan atap pelana atau julang ngapak (sayap burung terbuka). Rumah adat disebut Rumah Gadang, dengan atap menyerupai tanduk kerbau yang melengkung, mencerminkan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Untuk makanan khas Sunda cenderung ringan dan segar, seperti lalapan, karedok, sayur asem. Beda dengan suku Minangkabau yang makanan khasnya kaya rempah, berbumbu kuat dan pedas, seperti rendang, dendeng balado, gulai.

Dalam bidang Kesenian dan Musik  Alat musik  Sunda khas seperti angklung, kacapi, degung, dengan nada lembut dan menenangkan. Alat musik Minangkabau tradisional berupa saluang, talempong, gandang, dengan irama lebih cepat dan semangat.

Dari sisi keagamaan dan kepercayaan orang Sunda dan Minangkabau sama-sama mayoritas Islam, tetapi warisan budaya Hindu-Buddha dan animisme masih terasa dalam beberapa adat dan seni Sunda. Kedua suku ini  sangat kuat adat istiadatnya  dan kehidupan sosial sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam.

Meski berbeda dalam filosofi dan cara pandang hidup, Sunda dengan kelembutannya dan Minangkabau dengan ketegasannya, keduanya berakar pada nilai yang sama yaitu  menjunjung tinggi kehormatan, keselarasan hidup, dan keluhuran budi pekerti. Perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan jembatan penguat dalam mozaik kebudayaan Indonesia. Satu nilai luhur yang menjadi benang merah dan kekuatan pemersatu adalah penghormatan terhadap sesama manusia dan lingkungan, sebagaimana tercermin dalam prinsip “someah hade ka semah” dan “alam takambang jadi guru”. Nilai-nilai inilah yang menghidupkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, bahwa dalam keberagaman terdapat kesatuan rasa dan cita. Dengan saling memahami dan merayakan perbedaan, kita bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga merawat jati diri bangsa.(fsy)