Soft Living:
Menikmati Hidup, Bukan Dikejar Hidup
Di tengah riuhnya dunia yang serba cepat, di mana keberhasilan sering
diukur dari seberapa banyak pencapaian yang kita raih dan seberapa sibuk kita
terlihat, muncul sebuah arus baru yang mengalir lebih pelan: soft living. Gaya
hidup ini mengajak kita untuk tidak sekadar hidup, tetapi menikmati hidup.
Bukan berarti menolak kerja keras, melainkan mengatur ritme agar kita tidak
terjebak dalam hustle culture, budaya yang memuja kesibukan dan menganggap
sibuk sebagai tanda sukses.
Menurut pakar psikologi Setyawati (2020), hustle culture adalah budaya yang
memicu seseorang menganut workaholism atau “gila kerja”. Istilah ini pertama
kali diperkenalkan oleh Wayne Oates dalam bukunya Confessions of a Workaholic:
The Facts About Work Addiction pada tahun 1971. Dalam praktiknya, hustle
culture sering membuat kita lupa bahwa tubuh dan pikiran punya batas. Kita
terus mengejar target, menambah jam kerja, bahkan merasa bersalah saat
beristirahat. Seakan-akan nilai diri hanya diukur dari seberapa sibuk kita.
Soft living hadir sebagai penyeimbang, mengingatkan bahwa kualitas hidup jauh
lebih berharga daripada kuantitas pencapaian.
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi banyak orang. Saat dunia dipaksa
berhenti sejenak, kita mulai mempertanyakan: Apakah hidup ini hanya tentang
bekerja dan mengejar materi? Banyak yang menyadari bahwa kesehatan, baik fisik
maupun mental, adalah aset yang jauh lebih mahal daripada semua penghargaan di
meja kerja. Survei di berbagai negara menunjukkan meningkatnya kesadaran akan
pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda. Data juga
memperlihatkan tren burnout ( Menurut Kamus American Psychological Association yang
dikutip dari website Cleveland Clinic, burnout adalah kelelahan secara fisik,
emosional, atau mental yang disertai dengan penurunan motivasi, kinerja, dan
munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri maupun orang lain ). Kelelahan
fisik dan mental akibat tekanan kerja, semakin meningkat di kelompok pekerja
usia 20–35 tahun. Fenomena ini membuat sebagian orang memilih untuk
memperlambat langkah, mengatur ritme, dan memberi ruang bagi diri sendiri.
Menjalani hidup dengan ritme sehat membutuhkan kesadaran dan keberanian. Kita
semua adalah khalifatullah di muka bumi, masing-masing punya peran unik yang
diamanahkan oleh Tuhan. Fokuslah pada peran itu dan jalankan dengan sepenuh
hati. Saat kita berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain, rasa
syukur akan hadir dengan sendirinya. Selanjutnya kita harus mampu mengelola stress
karena stres adalah hal yang lumrah, pilihan ada pada diri kita apakah
dibiarkan menumpuk hingga menjadi beban, atau diurai dengan cara sehat seperti
olahraga, hobi, atau ibadah. Menjaga hubungan dan koneksi yang sehat dengan
keluarga dan sahabat adalah benteng yang membuat kita tetap waras di tengah
tekanan kerja. Luangkan waktu untuk bercengkerama, bertatap muka dan bukan
hanya melalui media sosial, misalnya dengan mengirim
pesan singkat.
Bahwa setiap kita menginginkan pencapaian yang spektakuler dalam berkarir
atau dalam meraup keuntungan besar dalam hidup adalah hal yang lumrah, namun
demikian agar prosesnya dapat berjalan dengan baik dalam irama yang harmoni,
maka kita perlu melatih kesadaran. Tidak semua hal bisa dicapai secara instan,
kesabaran mengajarkan kita untuk menghargai proses, bukan hanya hasil, menetapkan
prioritas, mengingat waktu dan energi kita terbatas. Hal penting lainnya yang
perlu kita latih adalah belajar mengatakan “tidak” pada hal yang tidak sejalan
dengan tujuan hidup dan itu merupakan bentuk nyata dalam kita menghargai diri
sendiri. Dalam menjalani proses panjang, pada setiap fase yang kita jalani,
perlu ditanamkan rasa syukur yang membuat kita merasa cukup, bahkan di tengah
keterbatasan. Ini adalah fondasi dari kebahagiaan yang tahan lama. Rasa syukur
yang dalam akan berdampak pada kemampuan diri dalam menjaga keseimbangan,
termasuk menyelaraskan antara kerja keras dan istirahat, karena kedua tindakan
ini bukanlah musuh, keduanya harus
berjalan beriringan. Hal yang tidak kalah penting yang perlu kita bina adalah
kemampuan diri untuk beradaptasi dengan perubahan. Dunia selalu berubah, mereka
yang mampu beradaptasi akan lebih tenang menghadapi ketidakpastian.
Agar soft living dapat kita terapkan dalam kehidupan kita, maka beberapa
langkah jitu dapat kita lakukan, antara lain dengan memilih
pekerjaan yang fleksibel, memberi ruang untuk mengatur jam kerja sesuai
kebutuhan pribadi, mengatur waktu istirahat yang cukup, tanpa merasa bersalah
karena berhenti sejenak, mengurangi konsumsi berlebihan, membeli barang yang
benar-benar dibutuhkan., membatasi jam layar (screen time), agar tidak
tenggelam dalam dunia digital dan lupa pada dunia nyata. Rani, seorang
freelancer di Jakarta, membagikan pengalamannya: “Dulu saya bangga kalau tidur
hanya 4 jam demi menyelesaikan proyek. Tapi setelah sakit, saya sadar bahwa
tubuh punya batas. Sekarang saya bekerja maksimal 6 jam sehari, sisanya saya
gunakan untuk membaca, berkebun, atau berkumpul dengan keluarga. Pendapatan
saya memang tidak meledak, tapi saya jauh lebih bahagia.”
Soft Living mempunyai banyak dampak positif, antara lain ; kesehatan mental
yang lebih baik, karena ritme hidup teratur, punya waktu untuk merawat pikiran,
mengelola emosi, dan mencegah burnout. Waktu berkualitas dengan orang terdekat
membuat hubungan lebih hangat dan penuh makna, menjadikan kehidupan lebih
harmonis. Pola konsumsi lebih terkendali, ,mengurangi keinginan untuk terus
membeli barang membuat kita lebih hemat dan ramah lingkungan.
Tidak semua orang melihat soft living secara positif. Ada anggapan bahwa
mereka yang menjalani gaya hidup ini adalah pemalas atau kurang ambisius.
Tantangan lainnya adalah faktor ekonomi: tidak semua orang punya privilege
untuk mengatur ritme kerja sesuai keinginan, terutama mereka yang berada di
bawah tekanan finansial. Selain itu, ada risiko kehilangan daya saing di pasar
kerja jika kita terlalu “nyaman” dengan ritme santai. Artinya, soft living
tetap membutuhkan kesadaran untuk menjaga kompetensi dan keterampilan agar kita
tidak tertinggal.
Di Indonesia, tren soft living mulai dilirik oleh generasi muda, terutama
yang tinggal di kota besar. Media sosial turut mempopulerkannya lewat konten
para influencer yang membagikan gaya hidup seimbang, hobi sederhana, hingga
tips manajemen waktu. Namun, secara budaya, Indonesia masih kental dengan nilai
kerja keras ala generasi sebelumnya. Dalam keluarga tradisional, bekerja dari
pagi hingga malam sering dianggap sebagai tanda tanggung jawab. Karena itu,
soft living kerap dipandang “kurang serius” dalam meniti karier. Tantangannya
adalah menemukan titik temu antara nilai-nilai lama yang menghargai etos kerja
dan pandangan baru yang menekankan kesehatan mental serta kualitas hidup.
Pada akhirnya, soft living bukan tentang bermalas-malasan atau lari dari
tanggung jawab. Ia adalah seni menyeimbangkan antara mengejar mimpi dan
menikmati perjalanan. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya demi target
yang terus bergeser. Seperti kata pepatah, “Jadilah sungai yang mengalir
tenang, alirannya tidak berisik, namun dapat menghidupi banyak jiwa.” Sungai
yang tenang tidak berarti lemah, ia tetap mengalir, memberi kehidupan, dan
mencapai lautan pada waktunya. Begitu pula hidup kita, berjalan dengan tenang,
penuh kesadaran, namun tetap bergerak menuju tujuan.(fsy)