Selasa, 18 Maret 2025

Energi Negatif itu Menular

 

Energi Negatif Itu Menular: Kenali Penyebab dan Cara Menghindarinya

Oleh: Febri Satria Yazid

*Pemerhati Sosial

 

            Saat sahur pukul 02.37 dini hari tadi, saya menerima video percakapan antara I Wayan Mustika dan Abu Marlo berjudul Mengapa Kita Capek Bersama Orang Bad Vibes atau Bad Energy? Stay Positive Meski di Lingkungan Negatif. Video yang dikirimkan pak Didin Tulus melalui grup WhatsApp Antologi   dengan catatan @Febri Satria Yazid, ini menarik buat saya. Setelah menyaksikan video tersebut, saya tergerak untuk mengulasnya melalui artikel ini.

            Jika kita kurang cerdas dan memiliki sedikit energi positif, lalu bertemu dengan seseorang yang lebih pintar tetapi berenergi negatif, kita cenderung tersedot oleh energinya. Namun, jika kita lebih cerdas dan terkoneksi dengan kecerdasan semesta, kita akan menemukan kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan tersebut, kesadaran kita menjadi lebih kritis, mampu membedakan mana yang layak diserap dan mana yang sebaiknya diabaikan. Pada akhirnya, kita menjadi pribadi yang lebih selektif dalam berpikir dan bertindak.

 

Pragmatisme dan Kebijaksanaan

            Setelah menonton video tersebut, saya berdiskusi dengan sahabat SMA saya melalui WhatsApp. Ia berpendapat bahwa orang yang pragmatis cenderung berpikir sempit, terburu-buru, dan menginginkan hasil instan tanpa proses panjang. Namun, saya melihat pragmatisme dalam konteks yang lebih luas. Dalam filsafat, pragmatisme bukan sekadar berpikir instan, tetapi menguji suatu ide melalui pengalaman dan aplikasinya dalam kehidupan nyata. Filsuf seperti William James, John Dewey, dan Charles Peirce menilai kebenaran suatu gagasan berdasarkan manfaat dan dampaknya dalam kehidupan.

            Dalam konteks percakapan antara I Wayan Mustika dan Abu Marlo, pragmatisme yang dimaksud lebih mendekati kebijaksanaan (wisdom). Kebijaksanaan memungkinkan seseorang memilah informasi dengan kesadaran penuh, membedakan yang baik dan buruk, serta fokus pada hal yang bermanfaat. Ini bukan pragmatisme dalam arti berpikir instan, tetapi bentuk pemikiran kritis yang matang.

Energi Negatif Itu Menular

            Energi dan kecerdasan memiliki dimensi yang berbeda tetapi saling memengaruhi. Jika kita kurang memiliki energi positif atau kesadaran diri yang kuat, kita lebih mudah tersedot oleh energi negatif orang lain, terutama jika mereka lebih pintar secara intelektual tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Namun, jika kita memiliki kecerdasan yang lebih luas dan tidak hanya berpusat pada ego serta logika, kita bisa memilah mana yang perlu diperhatikan dan mana yang harus diabaikan. Ketika kita memiliki kebijaksanaan, kita tidak mudah terpengaruh oleh energi negatif karena kita menyadari bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang layak diserap. Kesadaran kritis membantu kita mengenali informasi yang relevan dan yang hanya menjadi distraksi. Sikap pragmatis dalam arti positif berarti kita tidak membuang waktu pada hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi pertumbuhan diri.

 

Mengapa Orang Berenergi Negatif Membuat Kita Lelah?

            Orang dengan energi negatif sering kali menjadi sumber kelelahan emosional dan mental bagi orang di sekitarnya. Mereka cenderung menguras emosi dengan banyak mengeluh, menyalahkan keadaan, atau membawa drama yang tidak perlu, sehingga menimbulkan beban psikologis. Selain itu, mereka menyebarkan pesimisme yang dapat meningkatkan kecemasan dan stres, membuat kita sulit berpikir jernih dan mempertahankan ketenangan batin. Kehadiran mereka juga dapat mengganggu fokus dan produktivitas, karena energi negatif yang mereka pancarkan menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk bekerja atau beraktivitas. Bahkan tanpa aktivitas fisik yang berat, interaksi dengan orang-orang seperti ini dapat membuat kita merasa lelah dan terkuras, karena aura tegang dan ketidaknyamanan yang mereka bawa terus-menerus mempengaruhi keseimbangan emosional kita. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan menetapkan batasan yang sehat agar kita tetap bisa menjaga energi positif dalam diri.

 

Cara Melindungi Diri dari Energi Negatif

            Untuk menghadapi orang dengan energi negatif tanpa ikut terseret dalam dampaknya, penting untuk memiliki strategi perlindungan diri yang efektif. Sadari batasan diri, jangan merasa bertanggung jawab untuk selalu membantu atau menyerap beban mereka, karena itu bisa menguras energi dan membuat kita kewalahan. Jika memungkinkan, kurangi frekuensi interaksi agar tidak terlalu terpengaruh oleh aura negatif yang mereka bawa. Jaga jarak secara emosional, hindari keterlibatan yang terlalu dalam sehingga perasaan kita tetap stabil dan tidak mudah terpengaruh.

            Selain itu, perkuat energi positif dengan menjaga keseimbangan fisik, mental, dan spiritual melalui olahraga, meditasi, atau aktivitas yang memberikan kebahagiaan. Latih kesadaran diri dengan memilah informasi yang benar-benar bermanfaat dan mengabaikan hal-hal yang hanya menguras energi tanpa memberikan nilai tambah. Kelilingi diri dengan orang-orang positif, karena berinteraksi dengan mereka dapat meningkatkan semangat, memperkuat motivasi, dan membantu menjaga keseimbangan emosional. Terakhir, gunakan teknik perlindungan energi seperti visualisasi atau afirmasi positif untuk menciptakan tameng mental yang menjaga stabilitas energi kita. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat tetap tenang, fokus, dan menjaga kualitas hidup tanpa terganggu oleh energi negatif dari lingkungan sekitar.

            Energi negatif dapat menguras kekuatan kita jika tidak dikelola dengan baik, melemahkan semangat, serta memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, penting untuk mengenali sumbernya, memahami dampaknya, dan menerapkan strategi perlindungan diri yang efektif. Dengan kesadaran kritis dan kebijaksanaan, kita dapat menghadapi lingkungan yang penuh energi negatif tanpa mudah terpengaruh atau terseret arus. Pada akhirnya, menjaga energi positif dalam diri bukan hanya kunci untuk tetap produktif, sehat, dan bahagia, tetapi juga fondasi dalam membangun kehidupan yang lebih harmonis, penuh makna, dan berkualitas. (fsy)

 

 

Rabu, 05 Maret 2025

Antara Penting dan Cuma : "Sudut Pandang Berbeda"

 

Antara Penting dan Cuma: "Sudut Pandang Berbeda"

Oleh ; Febri Satria Yazid

*pemerhati sosial

            Pernahkah kita merasa kesal ketika sesuatu yang kita anggap penting justru dianggap cuma oleh orang lain? Atau sebaliknya, kita melihat seseorang sangat serius terhadap hal yang menurut kita tidak berarti? Ini adalah gambaran sederhana tentang bagaimana perbedaan perspektif memengaruhi cara kita memandang kehidupan.

            Apa yang kita anggap penting bisa jadi hanya cuma bagi orang lain, dan sebaliknya. Tetapi, apakah ada cara untuk memahami perbedaan ini agar kita bisa lebih bijak dalam menyikapi kehidupan?.  "Penting" adalah sesuatu yang bernilai tinggi, berdampak besar, dan sering kali menjadi prioritas utama sedangkan "cuma" adalah sesuatu yang tampaknya sepele, biasa saja, atau tidak memiliki dampak signifikan dalam hidup. Batas antara penting dan cuma itu tipis dan sangat subjektif, contohnya ; seorang anak kecil menangis kehilangan mainannya. Bagi orang dewasa, ini mungkin cuma mainan. Tapi bagi si anak, itu adalah harta berharga, teman bermain yang selalu ada atau seorang pebisnis menganggap sebuah kontrak kerja sangat penting karena menentukan masa depan perusahaannya, sementara bagi karyawannya, itu hanya cuma dokumen yang harus ditandatangani.

            Suatu kisah inspiratif bisa membantu kita memahami bagaimana sesuatu yang tampaknya cuma bagi satu orang bisa menjadi sangat berarti bagi yang lain. Kisah seorang tukang ojek dan sepasang sepatu berikut ; Ada seorang tukang ojek yang setiap hari mengantar seorang siswa SMA ke sekolah. Suatu hari, si siswa menjatuhkan sepatu lamanya di jalan dan berkata, "Ah, cuma sepatu lama, nanti aku beli lagi." Tukang ojek itu tersenyum dan diam-diam mengambil sepatu tersebut. Beberapa hari kemudian, siswa itu melihat tukang ojek yang sama mengenakan sepatunya. Saat ditanya, sang tukang ojek menjawab, "Buat saya, ini bukan cuma sepatu lama. Ini penting karena saya sekarang bisa bekerja tanpa kaki saya sakit." Apa yang bagi siswa itu "cuma" barang bekas, bagi tukang ojek itu adalah sesuatu yang sangat penting.

            Kesalahan umum dalam menilai penting dan cuma  adalah banyak dari kita sering terjebak dalam kesalahan persepsi ini. Seorang influencer bisa menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan komentar negatif di media sosial. Padahal, dalam gambaran besar hidupnya, komentar itu tidak punya dampak nyata. Atau bisa juga terjadi seseorang meremehkan hal yang sebenarnya berharga, misalnya seorang anak mungkin merasa orang tuanya selalu cerewet saat menyuruh belajar atau makan sehat. Baru ketika ia dewasa dan menghadapi hidup sendiri, ia sadar bahwa nasihat itu ternyata sangat penting.

            Kita perlu bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan perspektif dengan cara ; melatih empati sebelum menganggap sesuatu remeh, coba lihat dari sudut pandang orang lain. Apa yang kita anggap sepele bisa jadi sangat berarti bagi mereka, menimbang dampak jangka panjang tidak hanya melihat sesuatu dari dampak sesaat. Hal-hal kecil seperti senyuman atau kata-kata baik bisa membawa perubahan besar bagi orang lain. Selanjutnya kita dapat belajar memilih prioritas dengan bijak. Tidak semua hal harus kita anggap penting, tetapi tidak semua hal boleh kita abaikan. Kita perlu belajar memilah mana yang benar-benar esensial dalam hidup.

            Hal kecil bisa membawa perubahan besar, sering kali kita menganggap bahwa hanya tindakan besar yang bisa memberi dampak signifikan, padahal kenyataannya hal-hal kecil seperti senyuman, kata-kata baik, atau sekadar mendengarkan seseorang dengan penuh perhatian dapat memberikan efek yang luar biasa bagi orang lain. Misalnya, seorang karyawan yang mendapatkan pujian sederhana dari atasannya bisa menjadi lebih termotivasi dalam bekerja. Seorang teman yang mendapatkan dukungan moral saat sedang terpuruk bisa bangkit kembali. Ini membuktikan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, memiliki kekuatan untuk membawa perubahan.

            Hidup ini penuh dengan berbagai peristiwa, tugas, dan tanggung jawab. Tidak semua hal bisa kita anggap penting, tetapi juga tidak semua bisa kita abaikan. Oleh karena itu, kita perlu memilah dan memilih mana yang benar-benar esensial dalam hidup kita. Menentukan prioritas berarti memahami mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dikesampingkan. Ini tidak hanya berlaku dalam pekerjaan atau tanggung jawab sehari-hari, tetapi juga dalam hubungan sosial dan emosional kita. Jika kita terlalu fokus pada hal-hal yang kurang penting, kita bisa kehilangan momen berharga yang sebenarnya lebih berarti dalam hidup. Melatih empati, menimbang dampak jangka panjang, memperhatikan hal-hal kecil, dan memilih prioritas dengan bijak adalah keterampilan yang sangat berharga dalam kehidupan. Dengan memahami hal ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih bermakna bagi diri sendiri serta orang lain.

            Hidup ini adalah tentang bagaimana kita menilai sesuatu. Apa yang kita anggap penting bisa jadi hanya cuma bagi orang lain, dan sebaliknya. Tapi dengan memahami bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, kita bisa lebih bijak dalam bersikap, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih damai dalam menjalani hidup. Sebelum kita berkata "Ah, itu cuma" atau "Ini sangat penting!", cobalah berpikir ulang. Mungkin, bagi seseorang di luar sana, hal itu bisa mengubah hidup mereka.

            Dampak dari salah persepsi ini dalam kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan konflik dalam melakukan interaksi dengan sesama. Diperlukan kebijakan masing-masing dalam menyikapi  perbedaan perspektif dengan belajar menghargai pandangan orang lain, menimbang dampak jangka panjang sebelum menilai sesuatu penting atau Cuma, menerapkan empati dalam komunikasi dan interaksi sosial.

            Tidak semua yang kita anggap penting juga penting bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Bijak dalam membedakan mana yang benar-benar berharga dan mana yang sekadar ilusi kepentingan. Dengan memahami perbedaan perspektif, kita bisa lebih dewasa dalam bersikap dan lebih harmonis dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena tidak ada orang lain yang dapat mengetahui cara kita memandang, kitalah yang paling ahli dalam memandang diri kita sendiri (Carl Rogers), mengurangi ekspektasi, memberi ruang untuk kesadaran sendiri dengan mengurangi intensitas kepedulian agar tidak berujung kecewa yang pada titik tertentu dapat menjadi bumerang, mengapresiasi hal yang dilakukan oleh sesama terhadap kita tanpa menuntut agar memberikan perhatian pada hal yang menurut kita merupakan hal yang penting.

            Perbedaan perspektif antara “penting” dan “cuma” adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Sesuatu yang bernilai bagi satu orang bisa jadi tampak sepele bagi yang lain. Kesadaran akan perbedaan ini mengajarkan kita untuk lebih bijak dalam menilai sesuatu, melatih empati, dan menghargai sudut pandang orang lain. Dengan memahami bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, kita bisa lebih damai, harmonis, dan bermakna dalam berinteraksi. Bijak memilah prioritas dan mengapresiasi hal-hal kecil dapat membawa perubahan besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

            Jika perbedaan perspektif antara “penting” dan “cuma” terjadi dalam hubungan yang erat secara emosional dan penuh cinta kasih, dampaknya bisa lebih dalam. Karena ada harapan dan keterikatan batin, ketidaksepahaman bisa menimbulkan rasa kecewa, sakit hati, atau bahkan konflik. Namun, justru dalam hubungan seperti ini, empati dan komunikasi menjadi kunci utama. Memahami sudut pandang pasangan, keluarga, atau sahabat dengan hati yang terbuka dapat mencegah kesalahpahaman. Alih-alih berdebat tentang siapa yang benar, lebih baik mencari titik temu dan menghargai perasaan satu sama lain.

            Cinta yang sejati bukan hanya tentang memiliki kesamaan, tetapi juga menerima perbedaan dengan lapang dada. Dengan saling mendengarkan, menghargai, dan tidak meremehkan perasaan orang yang kita sayangi, hubungan akan semakin kuat dan penuh makna. Sebab, dalam cinta, hal yang kecil sekalipun bisa menjadi sangat berharga jika dirawat dengan pengertian dan kasih sayang.(fsy)

 

 

 

Kamis, 20 Februari 2025

Mata Terbuka, Hati Terlupa

 

 Mata Terbuka, Hati Terlupa

Oleh Febri Satria Yazid

·         Pemerhati Sosial

            “Saat orang buta bisa melihat lagi, hal pertama yang dibuangnya adalah tongkat yang telah membantunya sepanjang masa”, pagi ini saya membaca postingan ini dari teman semasa SMA di grup alumni. Dalam sekali makna dari kalimat ini, sehingga sebagai seorang pemerhati sosial saya langsung berpikir kalimat di atas menarik untuk diulas  karena sangat relevan dengan kehidupan sosial di tengah masyarakat yang kehilangan keobjektifan dalam menempatkan dirinya saat berinteraksi dengan sesama. Bagaimana manusia sering melupakan perjuangan, bantuan, atau hal-hal yang dulu sangat berarti ketika mereka sudah berada di posisi yang lebih baik. Tongkat melambangkan sesuatu yang membantu seseorang bertahan dalam keterbatasan. Bagi orang buta tongkat memiliki berbagai kegunaan yang sangat penting untuk membantu mobilitas dan kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari, membantu pengguna mengenali rintangan, permukaan jalan, dan perubahan medan, mendeteksi lubang, tangga, atau benda yang menghalangi jalan sebelum mereka menabraknya, memberi rasa aman dan meningkatkan kemandirian saat berjalan di tempat umum.

            Ketika keterbatasan itu hilang, dimana yang bersangkutan telah dapat melihat dunia dengan leluasa karena penglihatannya telah normal, bantuan tersebut justru ditinggalkan, seolah tidak lagi bernilai. Sering kali, saat seseorang mencapai kesuksesan atau keadaan yang lebih baik, mereka melupakan orang-orang atau hal-hal yang pernah membantunya. Pada saat seseorang mengalami peningkatan dalam hidupnya, ada kecenderungan untuk tidak lagi menghargai atau bahkan meremehkan masa lalu dan alat bantu yang dulu sangat menunjang mereka dalam keseharian diabaikan begitu saja.

            Kalimat ini bisa menjadi pengingat bagi kita agar tidak melupakan perjuangan, orang-orang yang berjasa, dan tetap rendah hati meskipun telah berada di posisi yang lebih baik. Kalimat ini juga bisa menggambarkan bagaimana manusia sering kali baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya, tetapi begitu mendapat yang lebih baik, mereka justru mengabaikan atau melupakan yang lama. Hal senada sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, perilaku lupa diri diungkapkan dalam  peribahasa "kacang lupa dengan kulitnya" ditujukan kepada  seseorang yang lupa akan asal-usulnya atau melupakan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupnya setelah mencapai kesuksesan.

            Fenomena lupa diri dalam kehidupan nyata, dapat terjadi dalam kehidupan pribadi, seperti anak yang lupa pada apa yang telah dilakukan oleh orang tua mereka. Meski hal itu dilakukan orang tua atas dasar kewajibannya, namun agama juga mengajarkan akan pentingnya anak-anak mempunyai akhlak yang baik dan benar kepada orang tua mereka. Fenomena lupa diri juga dapat terjadi akibat perubahan lingkungan, gaya hidup, atau pengaruh eksternal yang membuat seseorang melupakan akar dan asal-usulnya. Anak yang lupa akan jasa dan pengorbanan orang tua sering kali disebabkan oleh kesibukan dalam mengejar karier, pergaulan yang kurang mendukung nilai-nilai kekeluargaan, atau pola pikir yang lebih individualistis.

            Meskipun benar bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka, hubungan antara anak dan orang tua tidaklah sekadar hubungan kewajiban satu arah. Dalam ajaran agama dan nilai-nilai moral yang universal, anak-anak diajarkan untuk berbakti, menghormati, dan menghargai orang tua mereka, bukan hanya karena balas budi, tetapi juga sebagai bentuk akhlak mulia dan kepatuhan terhadap norma kehidupan. Lupa diri dalam konteks ini bukan hanya melupakan jasa orang tua, tetapi juga mengabaikan nilai-nilai yang seharusnya menjadi bagian dari karakter seseorang. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk selalu mengingat bahwa kesuksesan yang mereka raih tidak terlepas dari doa, bimbingan, dan pengorbanan orang tua, serta untuk tetap menjaga hubungan baik dengan mereka sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan.

            Fenomena ini juga dapat terjadi dalam persahabatan, dalam dunia kerja dan bisnis. Demikian juga seorang pengusaha yang mengabaikan pihak yang dulu membantu membangun usahanya. Lupa diri dalam berbagai aspek kehidupan menunjukkan kecenderungan manusia untuk melupakan akar dan perjalanan mereka setelah mencapai tingkatan tertentu dalam hidup. Dalam persahabatan, perubahan status sosial sering kali membuat seseorang meninggalkan sahabat lamanya. Ketika seseorang mendapatkan lingkaran sosial baru yang lebih sesuai dengan pencapaiannya, ada kemungkinan bahwa hubungan lama menjadi terabaikan, baik secara sengaja maupun tidak. Padahal, sahabat lama adalah bagian dari perjalanan hidup yang pernah memberikan dukungan, kebersamaan, dan pelajaran berharga.

            Dalam dunia kerja dan bisnis, fenomena ini tampak ketika karyawan yang telah meraih posisi tinggi melupakan mentor atau rekan kerja yang dahulu membantu mereka berkembang. Seorang pemimpin atau profesional yang sukses sering kali lupa bahwa pencapaiannya juga berkat bimbingan, kerja sama tim, dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Hal yang sama berlaku bagi pengusaha yang, setelah mencapai puncak kesuksesan, mengabaikan pihak-pihak yang pernah membantunya membangun bisnis dari nol, mulai dari mitra awal, pelanggan pertama, hingga karyawan setia yang telah berjuang bersama sejak awal. Sikap ini mencerminkan kurangnya rasa terima kasih dan kesadaran akan arti kerja sama dalam mencapai keberhasilan.

            Dalam konteks kehidupan sosial, masyarakat yang melupakan sejarah dan perjuangan para pendahulu berisiko kehilangan identitas serta arah dalam membangun masa depan. Sejarah bukan hanya kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi juga sumber nilai, pelajaran, dan kebijaksanaan yang dapat membimbing generasi berikutnya. Ketika nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan leluhur diabaikan, masyarakat cenderung mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan kehilangan pijakan moral yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

            Oleh karena itu, menjaga rasa syukur, loyalitas, dan penghormatan terhadap masa lalu bukan hanya tentang etika, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keseimbangan dalam kehidupan. Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari bagaimana seseorang tetap rendah hati dan menghargai mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanannya.

            Dari beberapa contoh kasus, tentu kita mesti mengantisipasi bagaimana agar fenomena tersebut di atas tidak terjadi pada diri kita dengan memperhatikan pentingnya untuk menjaga rasa syukur dan rendah hati. Menghargai proses yang telah membentuk diri kita, menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang pernah membantu, memahami bahwa kehidupan selalu berputar, suatu saat kita bisa kembali membutuhkan orang lain. Agar kita tidak melupakan akar perjuangan dengan sering merenungkan perjalanan hidup, tetap berhubungan dengan orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita.

            Orang tua juga perlu mengajarkan tentang nilai-nilai  kesetiaan dan penghargaan kepada anak-anaknya. Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kesetiaan dan penghargaan kepada anak-anak sejak dini. Kesetiaan mengajarkan anak untuk tetap menghargai dan menghormati orang-orang yang telah berjasa dalam hidup mereka, sementara penghargaan menumbuhkan rasa syukur atas bantuan dan kebaikan yang mereka terima. Nilai-nilai ini dapat diajarkan melalui keteladanan, seperti menunjukkan rasa hormat kepada keluarga, guru, dan sahabat lama, serta melalui percakapan reflektif tentang pentingnya mengenang perjuangan dan jasa orang lain. Dengan membiasakan anak untuk berterima kasih, tidak melupakan kebaikan, dan menjaga hubungan baik, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, berintegritas, dan menghargai perjalanan hidup mereka sendiri.

            Kesuksesan seharusnya tidak menjadikan seseorang lupa diri, tetapi justru semakin bersyukur dan menghargai perjuangan yang telah dilewati. Ajakan untuk selalu menjaga rasa syukur, rendah hati, dan menghargai setiap bantuan yang pernah diterima. Dengan demikian, sikap bijaksana dalam merayakan keberhasilan bukan hanya tentang meraih impian, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai moral dan menghormati perjalanan yang telah ditempuh dan menempatkan mereka yang telah turut serta mewarnai kehidupan kita hingga bisa mencapai titik seperti saat ini pada posisi yang tepat. (fsy)