Energi Negatif Itu Menular: Kenali Penyebab dan Cara Menghindarinya
Oleh: Febri Satria Yazid
*Pemerhati Sosial
Saat sahur pukul 02.37 dini hari tadi, saya menerima video percakapan antara I Wayan Mustika dan Abu Marlo berjudul Mengapa Kita Capek Bersama Orang Bad Vibes atau Bad Energy? Stay Positive Meski di Lingkungan Negatif. Video yang dikirimkan pak Didin Tulus melalui grup WhatsApp Antologi dengan catatan @Febri Satria Yazid, ini menarik buat saya. Setelah menyaksikan video tersebut, saya tergerak untuk mengulasnya melalui artikel ini.
Jika kita kurang cerdas dan memiliki sedikit energi positif, lalu bertemu dengan seseorang yang lebih pintar tetapi berenergi negatif, kita cenderung tersedot oleh energinya. Namun, jika kita lebih cerdas dan terkoneksi dengan kecerdasan semesta, kita akan menemukan kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan tersebut, kesadaran kita menjadi lebih kritis, mampu membedakan mana yang layak diserap dan mana yang sebaiknya diabaikan. Pada akhirnya, kita menjadi pribadi yang lebih selektif dalam berpikir dan bertindak.
Pragmatisme dan Kebijaksanaan
Setelah menonton video tersebut, saya berdiskusi dengan sahabat SMA saya melalui WhatsApp. Ia berpendapat bahwa orang yang pragmatis cenderung berpikir sempit, terburu-buru, dan menginginkan hasil instan tanpa proses panjang. Namun, saya melihat pragmatisme dalam konteks yang lebih luas. Dalam filsafat, pragmatisme bukan sekadar berpikir instan, tetapi menguji suatu ide melalui pengalaman dan aplikasinya dalam kehidupan nyata. Filsuf seperti William James, John Dewey, dan Charles Peirce menilai kebenaran suatu gagasan berdasarkan manfaat dan dampaknya dalam kehidupan.
Dalam konteks percakapan antara I Wayan Mustika dan Abu Marlo, pragmatisme yang dimaksud lebih mendekati kebijaksanaan (wisdom). Kebijaksanaan memungkinkan seseorang memilah informasi dengan kesadaran penuh, membedakan yang baik dan buruk, serta fokus pada hal yang bermanfaat. Ini bukan pragmatisme dalam arti berpikir instan, tetapi bentuk pemikiran kritis yang matang.
Energi Negatif Itu Menular
Energi dan kecerdasan memiliki dimensi yang berbeda tetapi saling memengaruhi. Jika kita kurang memiliki energi positif atau kesadaran diri yang kuat, kita lebih mudah tersedot oleh energi negatif orang lain, terutama jika mereka lebih pintar secara intelektual tetapi tidak memiliki kebijaksanaan. Namun, jika kita memiliki kecerdasan yang lebih luas dan tidak hanya berpusat pada ego serta logika, kita bisa memilah mana yang perlu diperhatikan dan mana yang harus diabaikan. Ketika kita memiliki kebijaksanaan, kita tidak mudah terpengaruh oleh energi negatif karena kita menyadari bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang layak diserap. Kesadaran kritis membantu kita mengenali informasi yang relevan dan yang hanya menjadi distraksi. Sikap pragmatis dalam arti positif berarti kita tidak membuang waktu pada hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi pertumbuhan diri.
Mengapa Orang Berenergi Negatif Membuat Kita Lelah?
Orang dengan energi negatif sering kali menjadi sumber kelelahan emosional dan mental bagi orang di sekitarnya. Mereka cenderung menguras emosi dengan banyak mengeluh, menyalahkan keadaan, atau membawa drama yang tidak perlu, sehingga menimbulkan beban psikologis. Selain itu, mereka menyebarkan pesimisme yang dapat meningkatkan kecemasan dan stres, membuat kita sulit berpikir jernih dan mempertahankan ketenangan batin. Kehadiran mereka juga dapat mengganggu fokus dan produktivitas, karena energi negatif yang mereka pancarkan menciptakan suasana yang tidak kondusif untuk bekerja atau beraktivitas. Bahkan tanpa aktivitas fisik yang berat, interaksi dengan orang-orang seperti ini dapat membuat kita merasa lelah dan terkuras, karena aura tegang dan ketidaknyamanan yang mereka bawa terus-menerus mempengaruhi keseimbangan emosional kita. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan menetapkan batasan yang sehat agar kita tetap bisa menjaga energi positif dalam diri.
Cara Melindungi Diri dari Energi Negatif
Untuk menghadapi orang dengan energi negatif tanpa ikut terseret dalam dampaknya, penting untuk memiliki strategi perlindungan diri yang efektif. Sadari batasan diri, jangan merasa bertanggung jawab untuk selalu membantu atau menyerap beban mereka, karena itu bisa menguras energi dan membuat kita kewalahan. Jika memungkinkan, kurangi frekuensi interaksi agar tidak terlalu terpengaruh oleh aura negatif yang mereka bawa. Jaga jarak secara emosional, hindari keterlibatan yang terlalu dalam sehingga perasaan kita tetap stabil dan tidak mudah terpengaruh.
Selain itu, perkuat energi positif dengan menjaga keseimbangan fisik, mental, dan spiritual melalui olahraga, meditasi, atau aktivitas yang memberikan kebahagiaan. Latih kesadaran diri dengan memilah informasi yang benar-benar bermanfaat dan mengabaikan hal-hal yang hanya menguras energi tanpa memberikan nilai tambah. Kelilingi diri dengan orang-orang positif, karena berinteraksi dengan mereka dapat meningkatkan semangat, memperkuat motivasi, dan membantu menjaga keseimbangan emosional. Terakhir, gunakan teknik perlindungan energi seperti visualisasi atau afirmasi positif untuk menciptakan tameng mental yang menjaga stabilitas energi kita. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat tetap tenang, fokus, dan menjaga kualitas hidup tanpa terganggu oleh energi negatif dari lingkungan sekitar.
Energi negatif dapat menguras kekuatan kita jika tidak dikelola dengan baik, melemahkan semangat, serta memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, penting untuk mengenali sumbernya, memahami dampaknya, dan menerapkan strategi perlindungan diri yang efektif. Dengan kesadaran kritis dan kebijaksanaan, kita dapat menghadapi lingkungan yang penuh energi negatif tanpa mudah terpengaruh atau terseret arus. Pada akhirnya, menjaga energi positif dalam diri bukan hanya kunci untuk tetap produktif, sehat, dan bahagia, tetapi juga fondasi dalam membangun kehidupan yang lebih harmonis, penuh makna, dan berkualitas. (fsy)