Selasa, 14 Mei 2024

Keseimbangan

 

Keseimbangan

Oleh ; Febri Satria Yazid

*pemerhati sosial

            Manusia adalah makhluk sosial, dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lain. Selain itu, manusia sebagai makhluk sosial juga berarti dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia akan selalu bergantung pada orang lain dalam hubungan yang seimbang.  Keseimbangan hidup adalah situasi di mana kita  mampu membagi kehidupan antara bersosial dan bekerja dalam proporsi waktu yang tepat, menemukan keseimbangan adalah memadukan ilmu keinginan dengan kebijaksanaan pemulihan untuk mendapatkan kebahagiaan, mengelola konsumsi berlebihan yang kompulsif di dunia di mana konsumsi telah menjadi motif utama dalam hidup kita.

            Hormon dopamin diproduksi oleh kelenjar di dalam tubuh, menyebar lewat aliran darah, dan berperan sebagai pembawa pesan serta berfungsi dalam berbagai proses tubuh. Salah satu peran penting dari hormon yaitu mengatur suasana hati. Beberapa jenis hormon diketahui dapat membantu meningkatkan perasaan positif, seperti kesenangan dan kebahagiaan. Meski hormon satu ini memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan mental, namun jumlah yang berlebihan dalam tubuh juga tidak baik. Kelebihan jumlah hormon dopamin di dalam tubuh membuat kita hiperaktif, mudah gelisah, insomnia, bahkan hingga menyebabkan gangguan mental seperti skizofrenia (gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).dan bipolar (gangguan jiwa yang umumnya mempengaruhi mood atau suasana hati, penderitanya dengan mudah berada pada  episode manik yang dapat membuat seseorang mengalami euforia di luar batas) dan depresif.

            Cara terbaik meningkatkan kadar dopamin, hormon pemicu kebahagiaan adalah dengan  memperoleh keseimbangan  ; mengonsumsi makanan yang kaya protein, kurangi asupan lemak jenuh, mengonsumsi  pro biotik, mengonsumsi kacang-kacangan, berolahraga secara rutin, waktu tidur yang cukup, mendengarkan musik. mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.

            Masyarakat modern sering kali terjebak dalam pola hidup di mana mereka terus-menerus mencari stimulus baru untuk meningkatkan tingkat dopamin dalam otak mereka. Ini bisa melalui penggunaan media sosial, konsumsi makanan cepat saji yang kaya gula dan lemak, atau bahkan kegiatan seperti berbelanja atau bermain game. Ketergantungan pada stimulus-stimulus yang memicu pelepasan dopamin dapat memiliki dampak negatif pada kesejahteraan mental dan emosional. Kecanduan, kecemasan, depresi, dan kesulitan konsentrasi adalah beberapa masalah yang sering kali terkait dengan kelebihan stimulasi dopamin.

            Untuk menjaga kesejahteraan fisik dan mental, penting bagi individu untuk menemukan keseimbangan dalam hidup mereka. Ini berarti mengatur penggunaan teknologi, mengadopsi pola makan yang seimbang, meluangkan waktu untuk istirahat dan relaksasi, serta menetapkan batasan dalam hal konsumsi media dan aktivitas lain yang memicu pelepasan dopamin. Keterampilan pengaturan diri yang baik adalah kunci untuk mengatasi godaan pemanjaan konstan di era modern ini. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali batasan pribadi, mengatur penggunaan teknologi, dan memprioritaskan kegiatan yang mempromosikan kesejahteraan secara keseluruhan.

            Mengembangkan nilai religiositas dan kesejahteraan psikologis adalah dua hal yang bisa saling mendukung dalam perjalanan spiritual dan pribadi seseorang. Untuk mencapainya kita perlu membangun nilai-nilai  religiositas dengan cara mempelajari ajaran dan praktik dari agama / keyakinan yang kita anut dengan cara membaca kitab sucinya, mengikuti kelas khusus atau mendengarkan ceramah keagamaan secara formal maupun non formal. Untuk lebih mendalam, kita dapat diskusi atau mengajukan pertanyaan kepada para ulama.

            Selain uraian di atas, kita perlu menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa atau bermeditasi. Ini dapat membantu kita untuk  mendekatkan diri kepada Allah SWT  dan merasakan kedamaian, ketenteraman , kenyamanan  dalam diri. Menghadiri ibadah secara teratur, sesuai dengan ajaran yang kita yakini kebenarannya. Bergabung dengan komunitas keagamaan juga dapat memberi dukungan sosial dan spiritual. Menerapkan nilai-nilai agama yang kita per oleh baik melalui ceramah yang kita dengar atau dari buku-buku yang kita baca dari kelas khusus yang kita ikuti ke dalam tindakan sehari-hari. Melakukan kegiatan membantu sesama, memberikan sedekah, dan lakukan perbuatan baik lainnya sesuai dengan ajaran agama yang kita yakini.

            Dari aspek psikologis kita perlu melakukan peningkatan kesejahteraan psikologis melalui tindakan memperhatikan kebutuhan fisik, emosional, dan mental kita. Memperhatikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat yang cukup, makan sehat, olahraga, dan temui teman-teman atau keluarga untuk berbagi cerita dan dukungan. Pelajari teknik-teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga untuk mengatasi stres dan kegelisahan. Jika kita merasa membutuhkan bantuan lebih lanjut dalam mengelola emosi atau masalah pribadi, kita dapat mencari bantuan dari seorang terapis atau konselor agar dapat menetapkan tujuan yang realistis dan berfokus pada pencapaian.  Merasa meraih pencapaian dapat meningkatkan rasa bahagia dan kepuasan dalam hidup.

            Memperoleh keseimbangan merupakan gol yang hendak kita raih, menjadi manusia yang religius agar diselamatkan dalam perjalanan kehidupan , sekaligus menjadi  manusia psikologis yang dapat meraih dan merasakan  kesenangan saat menjalaninya. Untuk mewujudkan keseimbangan yang ideal, maka kita perlu melakukan  refleksi diri dengan meluangkan waktu untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai religiositas kita  memengaruhi kesejahteraan psikologis kita atau sebaliknya.

            Menemukan komunitas atau kelompok yang mendukung kedua aspek ini. Banyak komunitas keagamaan juga menawarkan dukungan emosional dan psikologis. Kita perlu mempertahankan konsistensi dalam praktik agama dan perawatan diri sendiri,  juga bersikap fleksibel terhadap perubahan dan tantangan yang mungkin timbul dalam hidup. Untuk menjaga nilai-nilai religiositas dan menyinergikan hati, jiwa, nafsu, dan akal dengan tujuan merawat sisi psikologis, kita dapat mengikuti pendekatan yang holistik dan seimbang dengan melakukan introspeksi diri dengan memahami kekuatan, kelemahan, dan nilai-nilai diri yang memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana kita bisa lebih baik mendekati praktik religiositas dan kesejahteraan psikologis.

            Beribadah dan melakukan  praktik spiritual melalui doa dan meditasi dengan menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa dan bermeditasi yang sangat membantu kita dalam  menenangkan pikiran, merasa lebih dekat dengan Tuhan, dan meningkatkan kesadaran spiritual. Selanjutnya lakukan penerapan nilai-nilai agama dalam tindakan sehari-hari yang kita lakukan, seperti dengan kegiatan membantu  sesama, mempraktikkan kejujuran, memberikan nilai-nilai kasih sayang, dan sikap kedermawanan.

            Menciptakan keseimbangan psikologis dengan memperhatikan kebutuhan fisik, emosional, dan mental kita. Kenali dan kelola emosi negatif kita dengan baik. Ini bisa dilakukan melalui teknik-teknik seperti terapi, atau aktivitas kreatif yang menyenangkan. Menentukan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut yang memberikan arah dan makna dalam hidup kita, yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.

            Untuk dapat terintegrasi dan memperoleh keseimbangan terbuka terhadap pengalaman spiritual dan psikologis baru, kita tidak perlu takut untuk mengeksplorasi dan memperdalam pemahaman  tentang diri sendiri  dan hubungan dengan Khalik. Menjaga fleksibilitas dalam beradaptasi dengan perubahan dalam hidup, termasuk perubahan dalam praktik keagamaan dan kebutuhan psikologis  seiring berjalannya waktu. Dukungan sosial dan spiritual dengan cara bergabung dengan komunitas atau kelompok yang mendukung pertumbuhan spiritual dan kesejahteraan psikologis,  bisa menjadi komunitas agama, kelompok meditasi, atau kelompok dukungan emosional.

            Dengan memadukan praktik religiositas dengan perawatan psikologis yang baik, kita dapat menciptakan keseimbangan yang sehat antara hati, jiwa, nafsu, dan akal. Hal ini membantu kita berkembang secara holistik sebagai individu yang lebih seimbang dan bahagia. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai religiositas dan perawatan psikologis, kita dapat menciptakan fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan spiritual dan kesejahteraan pribadi. Dengan demikian, penggunaan pola asuh yang didasarkan pada psikologi perkembangan dan empati bukan hanya mendukung kesejahteraan psikologis, tetapi juga membantu kita dalam pengembangan nilai-nilai religiositas yang lebih mendalam dan bermakna.

            Hal penting mengenai keseimbangan: Keseimbangan ingin tetap seimbang, yaitu dalam keseimbangan. Ia tidak ingin terguling terlalu lama ke satu sisi atau sisi lainnya. Oleh karena itu, setiap kali keseimbangan mengarah pada kesenangan, mekanisme pengaturan diri yang kuat akan bertindak untuk mengembalikannya ke level yang sama. Mekanisme pengaturan diri ini tidak memerlukan pemikiran sadar atau tindakan kemauan. Itu terjadi begitu saja, seperti refleks ( Anna Lembeke, MD). (fsy)

Rabu, 01 Mei 2024

Kacamata Kuda

 

Kacamata Kuda

Oleh ; Febri Satria Yazid

Pemerhati Sosial

 

                Lebaran tahun 2024 , Idul Fitri 1445 H telah usai , Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta para pakar dan akademisi di bidang transportasi menyebutkan, momen Lebaran 2024 kali ini pergerakan masyarakat secara nasional sebanyak 193,6 juta orang. Angka ini, artinya mencapai 71,7% dari jumlah penduduk Indonesia Jumlah pemudik pada Lebaran 2024 menjadi rekor tertinggi dibanding mudik pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum dengan daya ungkit ekonomi yang paling besar di Indonesia, terlebih adanya tradisi mudik.

                Tradisi mudik adalah perjalanan pulang kampung yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada saat perayaan hari raya, terutama Idul Fitri. Tradisi ini melibatkan jutaan  orang yang bepergian dari kota tempat tinggal mereka kembali ke desa atau kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga dan merayakan momen tersebut bersama.

                 Tradisi mudik dapat memiliki dampak yang beragam antara lain  dianggap sebagai waktu untuk mencari kesenangan dan kepuasan sementara. Mereka mungkin melihatnya sebagai kesempatan untuk bersantai, menikmati makanan lezat, dan bersosialisasi dengan keluarga atau teman-teman lama. Napak tilas mengenang masa kecil berlebaran di kampung halaman, Shalat Idul fitri di lapangan terbuka bersama masyarakat yang berada di kampung halaman. Bepergian saat mudik juga sering kali menyertakan pengeluaran tambahan untuk transportasi, akomodasi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan liburan. Orang-orang mungkin cenderung menghabiskan lebih banyak uang untuk memenuhi keinginan mereka selama perjalanan ini.

                 Dalam konteks tradisi mudik di Indonesia, menggunakan "kacamata kuda" dapat berperan penting untuk melindungi pemudik dari jebakan  persaingan yang tidak sehat dalam memperebutkan fasilitas atau menunjukkan keberhasilan di rantau. Dengan menggunakan "kacamata kuda", pemudik dapat menghindari terlibat dalam persaingan yang merugikan ini dan memilih untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama pemudik dan masyarakat setempat.

Dengan menggunakan "kacamata kuda", pemudik dapat lebih memahami dan menghargai nilai-nilai tradisional yang mungkin berperan dalam tradisi mudik, seperti gotong royong, keramahtamahan, dan saling membantu. Ini dapat membantu mereka untuk berperilaku dengan hormat terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Dengan demikian, menggunakan "kacamata kuda" dapat membantu pemudik untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab selama tradisi mudik, sehingga mereka dapat menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan hubungan sosial mereka dalam kondisi yang sehat dan harmonis.

                 Tradisi mudik sering kali menyebabkan peningkatan lalu lintas dan kepadatan di jalan raya, yang meningkatkan risiko kecelakaan. Dengan menggunakan "kacamata kuda" dalam hal ini, orang dapat lebih memperhatikan faktor keselamatan seperti kecepatan, kondisi jalan, dan aturan lalu lintas untuk menyelamatkan diri dan orang lain dari bahaya.

                Dalam hal tradisi mudik, menggunakan "kacamata kuda" juga dapat berarti mempertimbangkan dampak lebih besar dari tindakan kita. Misalnya, mempertimbangkan dampak lingkungan dari perjalanan jarak jauh, serta memahami konsekuensi sosial dan ekonomi dari kegiatan tersebut.

                Kacamata Kuda adalah bagian dari pakaian kuda yang mencegah kuda melihat ke belakang dan, dalam beberapa kasus, ke samping. Ungkapan "kacamata kuda" memiliki makna yang cukup menarik dalam berbagai konteks. Secara umum, ungkapan ini dapat memiliki makna positif dan negatif tergantung pada konteks dan bagaimana ungkapan tersebut digunakan.

        Ungkapan "kacamata kuda" kadang digunakan untuk merujuk pada seseorang yang memiliki pandangan yang jernih, objektif, dan dapat melihat situasi secara menyeluruh. Ini karena kuda sering kali dipakai kaca mata yang membatasi pandangan mereka, membuat mereka fokus pada jalur atau tugas yang ada di depan mereka. Dalam hal ini, ungkapan ini bisa merujuk pada seseorang yang sangat fokus dan berdedikasi terhadap tujuan atau tugas yang dihadapinya.

                Dalam tulisan ini, kita akan bahas tentang dampak positif bagi seseorang yang menggunakan ungkapan ‘kacamata kuda’ dalam menyelamatkan dirinya dari kehidupan hedonis Kehidupan hedonis mengacu pada gaya hidup yang berfokus pada kesenangan sensorik dan kepuasan pribadi. Istilah ini berasal dari filsafat Yunani Kuno yang dikenal sebagai "hedonisme", yang mengajukan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan adalah tujuan tertinggi dalam hidup. Dalam konteks modern, kehidupan hedonis sering kali dikaitkan dengan gaya hidup yang mengejar kenikmatan jangka pendek, kesenangan fisik, dan gratifikasi diri. Ini bisa mencakup berbagai hal, seperti mengejar kesenangan materi, kegiatan rekreasi yang menyenangkan, konsumsi makanan atau minuman yang menggoda, dan lain sebagainya.

                Kehidupan hedonis dapat memberikan kesenangan sesaat, beberapa orang mengkritiknya karena kecenderungannya untuk mengabaikan aspek-aspek yang lebih mendalam dan bermakna dari kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, pertumbuhan pribadi, dan kontribusi kepada masyarakat. Selain itu, kesenangan jangka pendek yang terus-menerus sering kali tidak dapat memberikan kepuasan jangka panjang dan bahkan dapat menyebabkan masalah seperti ketergantungan atau kelelahan emosional.

                Fokus pada kualitas hidup sendiri tanpa terganggu oleh pencapaian orang lain dapat memiliki beberapa dampak positif, termasuk meningkatkan rasa syukur.  Saat seseorang tidak terlalu terpengaruh oleh pencapaian orang lain, mereka cenderung memiliki ekspektasi yang lebih realistis terhadap diri sendiri dan kehidupan mereka. Mereka tidak merasa perlu untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain atau mencapai standar yang ditetapkan oleh orang lain, yang dapat mengurangi tekanan dan kecemasan.

                Dengan tidak terlalu memperhatikan apa yang dimiliki atau dicapai oleh orang lain, seseorang dapat lebih mudah menghargai apa yang mereka miliki dalam hidup mereka sendiri. Mereka menjadi lebih sadar akan berkah dan kesempatan yang mereka nikmati, dan ini dapat meningkatkan rasa syukur serta kepuasan dengan kehidupan mereka saat ini. Fokus pada kualitas hidup sendiri memungkinkan seseorang untuk mengembangkan kemandirian emosional yang lebih besar. Mereka tidak bergantung pada pengakuan atau persetujuan dari orang lain untuk merasa baik tentang diri mereka sendiri. Sebagai gantinya, mereka memperoleh kepuasan dari pencapaian dan kebahagiaan internal. Dengan tidak terlalu terpengaruh oleh apa yang dicapai oleh orang lain, seseorang dapat lebih fokus pada pengembangan diri mereka sendiri,

        Di sisi lain, ungkapan "kacamata kuda" juga bisa digunakan untuk merujuk pada seseorang yang memiliki pandangan yang terlalu sempit atau terbatas, serta tidak mampu melihat gambaran besar atau sudut pandang yang lebih luas. Ini mencerminkan kecenderungan untuk mengabaikan atau tidak memperhatikan aspek lain dari suatu situasi atau permasalahan. Dalam konteks ini, ungkapan ini menyoroti ketidakmampuan seseorang untuk melihat hal-hal di luar pemahaman atau keyakinan mereka sendiri.

        Penting untuk diingat bahwa terlalu terpaku pada diri sendiri dan mengabaikan pencapaian atau perasaan orang lain juga dapat memiliki dampak negatif, seperti kurangnya empati dan hubungan yang kurang baik dengan orang lain. Seimbang antara fokus pada diri sendiri dan perhatian terhadap orang lain adalah kunci untuk kesejahteraan emosional yang sehat.(fsy).